Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Inovasi Jamu Deka di Muntilan Buat Jamu Naik Kelas, Dicampur Wortel hingga Aserehe Jadi Best Seller

Naila Nihayah • Sabtu, 18 Juli 2026 | 20:02 WIB
Dwi Kuntari terus berupaya menghadirkan inovasi baru untuk produk jamu buatannya.
Dwi Kuntari terus berupaya menghadirkan inovasi baru untuk produk jamu buatannya.

 

 

 

 

Di tengah menjamurnya minuman modern, usaha jamu tradisional justru tetap eksis dan bertahan. Hal itu ditunjukkan Dwi Kuntari, pemilik Jamu Deka di Muntilan, yang konsisten mengembangkan produknya sejak 2016.

Dia menjelaskan, usahanya dimulai pada Oktober 2016. Saat itu, Deka, panggilan akrabnya hanya memproduksi tiga varian jamu siap minum, yakni kunyit, kunyit asam, dan wortel. Namun sejak awal, dia menyadari, bertahan di bisnis jamu tidak cukup hanya mengandalkan resep tradisional.

Deka mulai memasukkan sentuhan inovasi untuk menarik minat pasar. Satu di antaranya melalui varian campuran wortel yang tidak umum ditemui. Seiring waktu, jumlah varian terus berkembang mengikuti tren yang muncul di masyarakat.

Baca Juga: Stunting di Bantul Turun 203 Kasus, Pendampingan Balita Terus Digencarkan

Ketika minuman boba menjadi populer, Dwi mengadopsinya ke dalam produk jamu dengan menghadirkan jamu boba berbahan beras kencur dan tambahan aloe vera. "Aku juga buat racikan 'aserehe', perpaduan asem, lemon, serai, dan jahe yang jadi best seller," ujarnya, Kamis malam (16/7).

Momentum pandemi pada 2020 menjadi titik balik bagi usaha ini. Permintaan jamu meningkat seiring kesadaran masyarakat terhadap kesehatan. Kondisi tersebut dimanfaatkan Deka untuk mengembangkan produk. Tidak hanya jamu siap minum, tetapi juga jamu kering siap seduh.

Pengembangan produk berlanjut pada 2022 dengan peluncuran sirup herbal, seperti jahe merah dan kunyit asam. Namun keterbatasan masa simpan mendorong inovasi lanjutan. Pada 2023, ia menghadirkan produk wedang berbahan simplisia yang lebih tahan lama.

Baca Juga: Heri Pemad, 19 Tahun Bertahan Jadi Promotor Sekaligus Dirut ARTJOG; Jogja Hidup dari Festival, Event Telah Jadi Gaya Hidup

Kini, Jamu Deka memiliki empat kategori utama produk, mulai dari jamu siap minum, simplisia kering, sirup, hingga wedang rempah. Untuk jamu siap minum saja, tersedia sekitar 18 varian, dengan lima di antaranya menjadi produk terlaris, yakni aserehe, kunyit asam, gula asam, rosela merah, dan kasmaran.

Dari sisi produksi, lanjut dia, usaha ini mampu menjual rata-rata 50 hingga 75 botol per hari dari berbagai varian. Distribusi dilakukan melalui berbagai kanal, mulai dari penjualan langsung di outlet, sistem titip jual di rumah makan, hingga pemasaran digital melalui media sosial dan marketplace.

 

Dia menyebut, satu titik penjualan yang cukup stabil berasal dari kerja sama dengan rumah makan, yaitu Sop Empal. "Karena rumah makan, ya. Jadi ramai. Biasanya rata-rata sehari bisa (habis) 15 botol di sana," sebutnya.

Aserehe jadi salah satu produk unggulan Jamu Deka
Aserehe jadi salah satu produk unggulan Jamu Deka

 

Selain inovasi rasa, Deka juga meracik produk yang berbeda dengan lainnya. Ia menghadirkan varian yang tidak umum di pasaran, sekaligus memberi nama-nama unik pada produknya, termasuk penggunaan istilah bernuansa Sanskerta pada wedang.

Deka mengatakan, upaya tersebut tidak hanya membangun identitas merek, tetapi juga memperluas pengenalan jamu ke masyarakat. "Contohnya aserehe yang sekarang dikenal luas karena dianggap sebagai jenis jamu baru," terangnya.

Di sisi lain, Deka menilai, tantangan terbesar dalam bisnis jamu bukan pada produksi, melainkan edukasi pasar. Ia melihat, masih banyak generasi muda, terutama anak-anak, yang belum mengenal jamu sebagai minuman tradisional.

Baca Juga: Pemkab Purworejo Ajak Selurum Elemen untuk Mitigasi Ancaman Karhutla

Karena itu, ia aktif terlibat dalam berbagai kegiatan edukasi, termasuk kelas dan pelatihan jamu. Upaya ini dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan pasar sekaligus mengenalkan kembali jamu kepada generasi baru.

Deka juga memanfaatkan media sosial sebagai sarana utama pemasaran. Sekaligus mulai merambah strategi penjualan langsung seperti live di TikTok dan Shopee. Bahkan, dia berencana melakykan ekspansi dengan membuka lapak di car free day (CFD).

Dari sisi harga, produk Jamu Deka dibanderol mulai Rp 6 ribu untuk kemasan kecil hingga Rp 75 ribu untuk produk sirup. Dia berharap, produk jamu buatannya akan semakin dikenal luas dan banyak yang tertarik mengonsumsi minuman tradisional itu. (aya/pra)

Editor : Heru Pratomo
jamu deka aserehe Wortel Dwi Kuntari muntilan