RADAR JOGJA - Harga telur ayam broiler di pasaran anjlok. Bahkan menyentuh di angka Rp 20 ribu per kilogram (kg).
Hal ini membuat peternak ayam merugi di lain sisi konsumen justru beramai-ramai memborong telur.
Kesenjangan ini dirasakan merata, beberapa faktor anjloknya harga salah satunya karena program makan bergizi gratis (MBG) besutan Presiden Prabowo Subianto dihentikan sementara lantaran masih dalam masa libur sekolah.
Seperti yang terjadi di pasar tradisional Jepara, Jawa Tengah.
Pekan ini, disambut antusias ibu-ibu rumah tangga yang ramai memborong telur ayam.
Namun kabar baik bagi konsumen ini justru jadi alarm bagi peternak.
Pemerintah pun turun tangan menetapkan harga acuan baru.
Di Pasar Jepara 2 misalnya. Mengutip dari wawancara media, pedagang telur Sintawati mengaku penjualannya melonjak drastis saat harga menyentuh Rp 20.000 per kg, dari biasanya 30 peti jadi sekitar 50 peti atau 500 kilogram sehari.
Baca Juga: Brain Drain Mengintai Indonesia, Dosen UMY Soroti Fenomena 8.000 WNI Ganti Kewarganegaraan
"Biasanya beli satu kilogram, jadi beli tiga sampai empat kilo buat stok," katanya, Sabtu (4/7/2026) dikutip dari Berita Satu.
Harga kini berangsur naik ke kisaran Rp 22.500- Rp 23.500 per kg.
Anjloknya harga telur bukan cuma terjadi di Jepara, di Ngawi Jawa Timur, kondisi serupa membuat peternak ayam justru kesulitan karena merugi.
Merespons ini, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menetapkan Harga Acuan Penjualan (HAP) baru yakni telur ayam Rp 24.000 per kg dan ayam hidup Rp 19.500 per kg, berlaku mulai 15 Juli 2026.
Baca Juga: Anggota Parlemen Uni Eropa Desak Penyelidikan Terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino, Ini Alasannya
"Peternaknya harus untung ya, dan konsumennya juga tidak boleh dirugikan," ujar Sudaryono usai rembuk bersama asosiasi peternak, Senin (6/7/2026).
Sudaryono berharap seluruh distributor mematuhi HAP baru ini, agar kesejahteraan peternak terjaga tanpa membebani konsumen secara berlebihan.
Editor : Meitika Candra Lantiva