Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Harga BBM Hingga Oli Naik, Pelaku Usaha Sektor Otomotif di Kulon Progo Mulai Tercekik

Anom Bagaskoro • Kamis, 11 Juni 2026 | 16:19 WIB
RAPI: Karyawan bengkel mobil menata produk oli yang kini merangkak naik. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)
RAPI: Karyawan bengkel mobil menata produk oli yang kini merangkak naik. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)

 

KULON PROGO - Kenaikan harga pada komoditas berbahan minyak bumi mulai dirasakan dampaknya oleh pelaku usaha di bidang otomotif.

Lantaran, harga BBM hingga oli mesin terus mengalami kenaikan.

Kepala Bengkel Binangun Aneka Usaha Sulistyo Abadi menyampaikan, harga oli hingga onderdil dari pabrik terus mengalami kenaikan. 

Kenaikan tercatat sejak Maret 2026, pasca menegangnya Timur Tengah.

"Sudah bukan naik lagi tapi ganti harga, oli mobil dulunya Rp 340 ribu kini Rp 400 ribu," ucap Sulistyo, Kamis (11/6/2026).

Baca Juga: PPPK Paruh Waktu di Kulon Progo Tak Terima Gaji ke-13 Juni 

Sulis menjelaskan, kenaikan harga tak hanya terjadi pada komoditas oli.

Komoditas onderdil kendaraan roda dua dan empat turut mengalami kenaikan, walau masih di taraf wajar.

Hal ini membuat beban modal mengalami peningkatan.

Selain kenaikan harga, bengkel mengalami pukulan berat. Lantaran, stok komoditas oli kini sulit didapat.

Beberapa distributor oli tak mengirimkan produk sesuai jumlah pesanan.

Pihaknya terbiasa memesan 20 karton oli, tetapi kini hanya dikirim tiga karton.

Kondisi ini dipicu oleh pembatasan distribusi barang otomotif. 

Baca Juga: Spesialis Bobol Tower BTS Ditangkap, Kabel Curian Dijual Online Rp 190 Ribu Tiap Kilogram

Lantaran, biaya operasional pabrik dan distributor terus membengkak. Terlebih melemahnya rupiah terhadap dolar, semakin memperburuk kondisi ini.

"Awal bulan ini sudah mulai terlihat penurunannya," ungkapnya.

Kenaikan harga hingga keterbatasan stok membuat omset bengkelnya terancam mengalami penurunan.

Di hari biasa, pihaknya setidaknya dapat melayani pembelian hingga pengguna jasa sebanyak belasan pengguna.

Namun, kini mengalami penurunan signifikan. Omsetnya pun mengalami penurunan sebesar 15 hingga 20 persen.

Hal serupa juga diungkapkan, Dedy Sujatmoko yang memiliki bisnis penjualan mobil bekas dan jasa towing.

Baca Juga: Badai PHK Mengintai: Mengapa Job Hugging Bukan Tanda Putus Asa?

Usaha penjualan mobil bekas cukup lesu akhir-akhir ini. Hal ini dipengaruhi pola perilaku masyarakat.

"Konsumen mempertimbangkan pembelian mobil karena BBM naik," ungkapnya.

Harga BBM non subsidi menjadi tolok ukur perilaku konsumen.

Lantaran, konsumen mempertimbangkan harga BBM untuk membeli mobil.

Di samping itu, tak semua mobil atau pengguna dapat memiliki QR Subsidi My Pertamina.

Alhasil, omset penjualan bulanan mengalami penurinan sekitar 40 persen.

Selain masalah penjualan, Dedy mengeluhkan kendala dalam mengakses QR subsidi My Pertamina.

Lantaran, selama beberapa bulan terakhir beberapa truk toeing miliknya terblokir.

Hal ini menyebabkan, truk towing tak memperoleh jatah solar subsidi.

"Daripada bengkak operasionalnya, mending truknya dikandangkan hadi omsetnya turun 40 persen," ungkapnya. (gas)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Kulon Progo #otomotif #BBM #Oli #harga