BANTUL - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang berada di kisaran Rp 17.665 per USD mulai dirasakan dampaknya oleh pelaku usaha kerajinan gerabah di sentra kerajinan gerabah Kasongan. Kondisi ini justru membawa efek berlawanan bagi perajin, yakni meningkatnya transaksi dari pembeli luar negeri atau lebih sering disebut bayer.
Poniman, 65, pemilik Jambul Keramik di Sentra Gerabah Kasongan, Tirtonirmolo, Kasihan mengatakan, saat dolar menguat, produk kerajinan Indonesia menjadi lebih murah bagi pembeli asing.
"Kalau dolar naik, buyer-buyer jadi banyak. Yang biasanya cuma empat, sekarang bisa sampai tujuh,” ujarnya saat ditemui di tempat produksinya Senin (18/5).
Poniman menambahkan pengiriman ke luar negeri masih berjalan, meskipun tidak selalu dalam skala besar. Saat ini, ia lebih sering mengirim kerajinan ke luar negeri secara rombongan bersama perajin lain. Sesekali ia mengirim satu kontainer hasil kerajinannya sendiri, tetapi hal itu jarang terjadi. "Biasanya kalau rombongan lima unit," katanya.
Beberapa tujuan ekspor di antaranya Australia dan Belanda, sementara pasar lokal Jogjakarta hingga luar Jawa juga tetap menyerap produksi.
Ia menegaskan, bahan baku gerabah di Kasongan seluruhnya berasal dari material lokal, terutama tanah liat yang diolah langsung oleh perajin. Oleh karena itu, dampak pelemahan rupiah tidak terlalu berpengaruh pada biaya produksi, melainkan lebih pada sisi permintaan pasar.
Meski demikian, Poniman menilai keuntungan yang dirasakan perajin relatif stabil. Kenaikan jumlah buyer lebih banyak berdampak pada perputaran barang dan frekuensi pesanan, bukan pada lonjakan margin keuntungan.
"Keuntungannya ya kurang lebih sama saja. Tapi buyer jadi lebih sering datang karena harga terasa lebih murah,” tandasnya. (cin/laz)
Editor : Herpri Kartun