RADAR JOGJA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah.
Saat ini per Senin (18/5/2026) angkanya menyentuh Rp 17.630/US$.
Meski angka nilai tukar masih bisa berubah, namun penguatan dolar semakin mencekik masyarakat lokal, khususnya pedagang kecil.
Pedagang cilok dan gorengan di Sleman Samim, mengaku pedagang kecil merasa tercekik atas perubahan harga di pasaran.
Semua serba naik, serba mahal.
Baca Juga: Pemain West Ham Dikritik Suporter dalam Kekalahan dari Newcastle United, Nuno Espirito Santo Setuju
Menurutnya, melemahnya rupiah begitu terasa sejak dolar AS menukik tajam.
"Bingung sik ngecakke (memutar) duit. Apa-apa kok mahal," ungkapnya, Minggu (17/5/2026).
Harga tepung-tepungan, minyak goreng, tempe tahu, sayuran, plastik ikut naik.
"Lengkap penderitaan pedagang kecil," bebernya.
Ia menjelaskan, harga tepung yang biasa ia beli mulai ada kenaikan paling tidak Rp 1.000 per kilogram (kg).
Bumbu-bumbu naik, bawang putih bawang merah naik.
Minyak goreng bisa sampai Rp 2.000 kenaikannya.
"Ditambah, cabai rawit naik ugal-ugalan, sampai Rp 70 ribuan per kg," sebutnya.
Menurutnya, peran pemerintah sangatlah penting agar menekan harga tetap stabil.
Sehingga harga ramah bagi pedagang kecil.
"Oke, pemerintah memudahakan pinjaman kredit usaha rakyat (KUR), tapi nyatanya, semua-semua ganti harga," geramnya.
Tingginya bahan baku, membuatnya kelimpungan dalam mengelola keuangan.
Apalagi daya beli masyarakat menurun drastis.
Ditambah persaingan bisnis usaha yang sengit.
Tak jarang ia membawa kembali separo dari dagangannya, yang ia putarkan seharian.
Yang akhirnya menekan produksi dan berdampak pada pendapatan.
"Ia, dulu bisa jualan dua gerobak, sekarang satu ditunggu sendiri," ucap pria asal Kebumen itu.
Dulu pendapatan sehari bisa tembus Rp 200 ribu- Rp 300 ribu per gerobak.
"Sekarang mleret, bawa Rp 100 ribu - Rp 120 ribu sudah syukur," imbuhnya.
Di sisi lain, nilai dolar AS terhadap rupiah yang semakin merangkak naik menimbulkan kekhawatiran sendiri bagi pengusaha kecil (UMKM).
Sebab, bila dolar AS tembus hingga Rp 20.000 US$ dampaknya sangat luar biasa.
Dikuatkan pendapat ahli atau pakar ekonomi yang memprediksi bahwa dolar AS bisa saja tembus melebihi Rp 20.000/US$ di pertengahan tahun 2026.
Maka para UMKM hanya bisa menjerit memikul beban dan tanggungan hidup.
"Seperti peribahasa, hidup segan mati enggan. Itulah rakyat kecil," lontar Titin pedagang Es Buah, di wilayah Sleman.
Seorang ibu rumah tangga di Sleman Widira mengaku menjadi sering memasak di rumah, dibandingkan beli.
Ia memilih memanfaatkan tanaman lokal di pekarangan rumah untuk memasak.
"Lha apa-apa mahal, jangankan jajan. Uang makan aja rela dihemat-hemat, biar bisa bayar sekolah anak," tandasnya.
Editor : Meitika Candra Lantiva