Sebut Karakter Warga Jogja Konservatif, Anggito Abimanyu: Lebih Berhati-hati Mengatur Keuangan
Guntur Aga Tirtana• Rabu, 13 Mei 2026 | 03:30 WIB
Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu saat memberikan keterangan jelang pelaksanaan Jogja Financial Festival 2026 di GIK UGM, kemarin (12/5). Festival tersebut digelar untuk mendorong literasi keuangan masyarakat, khususnya generasi muda.
Jogja – Jogja Financial Festival 2026 dan Jogja Run D-City akan digelar di Jogja Expo Center (JEC) serta Gelanggang Inovasi dan Kreativitas Universitas Gadjah Mada (GIK UGM) pada 22–24 Mei 2026. Kegiatan tersebut menghadirkan sektor jasa keuangan, pemerintah, hingga akademisi guna mendorong edukasi dan literasi finansial masyarakat, khususnya generasi muda.
Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu mengatakan festival dikemas dalam bentuk eksibisi dan edukasi keuangan yang lebih dekat dengan masyarakat.
“Melalui kegiatan ini masyarakat mendapat informasi, pendidikan, sosialisasi, dan literasi mengenai perkembangan produk maupun jasa keuangan yang sekarang semakin beragam,” ujarnya di GIK UGM, Selasa (12/5).
Menurut Anggito, perkembangan sektor jasa keuangan kini semakin pesat, mulai dari bank konvensional, bank syariah, bank digital, pasar modal, surat berharga, hingga aset digital seperti kripto dan bitcoin. Karena itu, masyarakat perlu memahami peluang sekaligus risiko dari penggunaan layanan keuangan digital.
“Supaya masyarakat bisa memanfaatkan, tetapi juga tetap berhati-hati terhadap risikonya,” katanya.
Selama tiga hari pelaksanaan, Jogja Financial Festival ditargetkan menarik sekitar delapan ribu pengunjung. Sementara Jogja Run D-City diperkirakan diikuti lima ribu peserta.
Selain seminar dan diskusi, acara juga menghadirkan financial expo, edukasi literasi keuangan, hingga job fair. Berbagai hiburan turut disiapkan untuk menarik minat pengunjung.
Anggito menilai literasi keuangan bagi generasi muda menjadi semakin penting di tengah kemudahan akses layanan digital. Menurutnya, banyak anak muda mengambil keputusan investasi hanya karena mengikuti tren tanpa memahami risiko.