MAGELANG - Fluktuasi harga pangan masih menjadi penyumbang utama tekanan inflasi di Kota Magelang. Ketergantungan pasokan dari luar daerah membuat kota ini rentan terhadap gejolak global, mulai dari gangguan rantai pasok hingga lonjakan harga energi dan pangan dunia.
Kondisi tersebut tercermin dari pergerakan inflasi sepanjang triwulan I 2026 yang cenderung naik-turun. Pada Januari, inflasi tercatat 2,76 persen, kemudian melonjak menjadi 4,45 persen pada Februari, sebelum kembali turun ke angka 3,59 persen pada Maret.
Asisten Perekonomian dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Kota Magelang Yonas Nusantrawan Bolla menuturkan, tekanan inflasi di daerah tidak bisa dilepaskan dari faktor eksternal yang berdampak langsung hingga ke tingkat lokal.
Baca Juga: Chelsea Pecat Liam Rosenior Setelah Catatkan Rentetan Kekalahan Bersejarah Klub
"Ketidakpastian global, terutama rantai pasok dan fluktuasi harga energi serta pangan dunia, ikut memengaruhi kondisi di daerah," ujarnya, Kamis (23/4).
Menurutnya, kerentanan Kota Magelang terutama terlihat pada komoditas strategis seperti cabai, bawang, dan daging ayam yang sebagian besar masih bergantung pada pasokan luar daerah.
Lonjakan harga cabai rawit merah menjadi salah satu contoh nyata. Hingga April 2026, harga komoditas tersebut rata-rata mencapai Rp 57 ribu per kilogram (kg), menjadi penyumbang utama inflasi.
Baca Juga: Kabur ke Luar Kota, Polres Bantul Kejar Lima DPO Kasus Pengeroyokan Pelajar di Pandak
Meski demikian, Yonas menyebut, kondisi pasokan secara umum masih relatif terkendali. Distribusi bahan pokok, termasuk BBM dan LPG, terpantau aman dan lancar. Perbaikan pasokan sejak Maret juga mulai menahan laju inflasi.
Menghadapi kondisi tersebut, Pemkot Magelang mulai mengubah pendekatan pengendalian inflasi menjadi lebih adaptif dan terintegrasi. Satu langkah utama adalah memperkuat kerja sama antardaerah (KAD) dengan wilayah produsen untuk menjamin ketersediaan pasokan komoditas strategis.
"Kami intensifkan kerja sama dengan daerah produsen agar suplai tetap terjaga dan tidak terganggu," kata Yonas.
Selain itu, pemerintah juga memperkuat infrastruktur logistik. Seperti pembangunan gudang penyimpanan dan cold storage, guna menjaga stabilitas pasokan, terutama untuk komoditas yang mudah rusak.
Transparansi informasi harga dan pasokan juga menjadi perhatian, untuk menekan potensi spekulasi di pasar yang dapat memperparah kenaikan harga. Langkah lain yang ditempuh antara lain diversifikasi sumber pasokan, operasi pasar, serta penyelenggaraan gerakan pangan murah untuk menjaga daya beli masyarakat.
Baca Juga: Sidang Putusan Terdakwa Sri Purnomo Ditunda, Majelis Hakim: Masih Ada Koreksi dan Penyempurnaan
Sementara itu, Wakil Wali Kota Magelang Sri Harso menegaskan, pengendalian inflasi tidak bisa dilakukan secara parsial. Ia meminta seluruh perangkat daerah bergerak lebih progresif dan menyasar seluruh rantai distribusi, dari hulu hingga hilir.
Menurutnya, stabilitas harga harus menjadi prioritas karena berkaitan langsung dengan daya beli masyarakat dan tingkat kemiskinan. Dia juga mendorong penguatan pemantauan harga berbasis data serta optimalisasi peran BUMD dalam menjaga keseimbangan pasokan dan harga di pasar. (aya)
Editor : Heru Pratomo