JOGJA - Tren anak muda terjun ke dunia investasi terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Mulai dari emas, saham, Reksadana, hingga instrumen digital seperti Bitcoin dan aset kripto, kini semakin diminati generasi muda yang melek teknologi.
Pengamat ekonomi yang juga Kepala Departemen Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) I Wayan Nuka Lantara, menilai fenomena ini sebagai perkembangan positif.
Namun ia mengingatkan, para investor muda tetap harus bersikap rasional dan memahami risiko dari setiap instrumen yang dipilih.
Menurut Wayan, maraknya influencer yang mengedukasi soal investasi di media sosial menjadi salah satu faktor yang mendorong peningkatan minat anak muda. "Cara komunikasi influencer itu memang targetnya anak muda.
Mereka pendekatan lewat konten, dan itu efektif daripada pelatihan atau seminar yang konvensional," katanya kemarin (14/11).
Meski memberikan sisi positif, kehadiran influencer juga memiliki potensi risiko. Wayan menyoroti materi yang disampaikan oleh mereka tidak selalu akurat.
"Sisi kelemahannya karena power atau followers mereka banyak. Jadi fokusnya di situ, tapi kadang bekal atau ilmu yang dimiliki tidak semua valid, atau tidak tepat," ungkapnya.
Ia menyarankan agar anak muda mencari referensi sebanyak mungkin dari sumber kredibel seperti akademisi dan praktisi. Melek teknologi saja tidak cukup, karena literasi keuangan juga menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusan investasi.
"Bonus demografi ini harus disikapi dengan baik, karena bisa bahaya jika yang dikonsumsi oleh masyarakat tidak tepat. Perilaku ingin cepat kaya yang diiming-imingi influencer itu bahaya," paparnya.
Untuk pemula, Wayan menilai investasi yang paling aman dan terjamin adalah Obligasi Retail Indonesia (ORI) atau Reksadana. Ia menyebut instrumen obligasi cenderung stabil karena memiliki suku bunga tetap, sementara saham tetap bisa menjadi alternatif bagi yang memahami risikonya.
"Intinya adalah investasi yang bisnisnya jelas, dan fundamentalnya kuat. Juga yang lebih terkontrol hitungan dan risikonya," pesannya.
Lebih lanjut ia juga menyoroti kecenderungan anak muda yang kerap tergiur hasil instan tanpa mengukur kemampuan finansial dan mengabaikan risiko.
"Kadang langsung memilih investasi yang berisiko, seperti Bitcoin. Terlalu sering melihat influencer, juga bisa berbahaya, karena bisa bisa melihat situasi yang ada," jelasnya.
Terakhir Wayan mengingatkan pentingnya prinsip Legal dan Logis (2L) yang juga dianjurkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bagi siapa pun yang ingin mulai berinvestasi.
"Ikuti saran OJK soal 2L, terdaftar tidak di OJK, dan kita harus curiga kalau tidak legal. Lalu logis artinya bunganya masuk akal, feedback-nya masuk akal tidak. Itu harus dipikirkan secara rasional," tandasnya. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun