RADAR JOGJA - Nasib proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung alias Whoosh kembali jadi sorotan.
Kereta cepat woosh merupakan salah satu proyek infrastruktur transportasi strategis yang selama ini digadang-gadang menjadi simbol kemajuan mobilitas nasional.
Namun dibalik optimisme proyek kereta cepat Whoosh yang dibangun dengan skema kerja sama antara PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) dan sejumlah konsorsium BUMN ini meninggalkan PR utang jumbo mencapai sekitar Rp116 triliun.
Sejak resmi beroperasi pada Oktober 2023, performa finansial KCIC belum cukup kuat untuk menutup seluruh kewajiban beban, mulai dari biaya konstruksi, bunga pinjaman, serta kewajiban pembayaran kepada kreditur, termasuk lembaga pembiayaan asal Tiongkok.
Dengan kondisi pendapatan yang belum mampu menutup biaya operasional serta beban utang, muncul kekhawatiran apakah negara Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan ikut menyelamatkan proyek besar ini.
Menkeu Purbaya Menolak
Baru-baru ini, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan tegas menyatakan bahwa pemerintah tidak akan menggunakan APBN untuk menanggung utang proyek Whoosh itu.
“Kalau dibawah Danantara kan mereka udah punya manajemen sendiri, udah punya dividen sendiri yang rata-rata setahun bisa 80 triliun atau lebih.” ujar Purbaya secara daring dalam Media Gathering, Bogor, pada Jumat (10/10/2025) kemarin.
Purbaya juga menambahkan bahwa sumber dana dan pengelolaan keuangan seharusnya bisa diatur secara mandiri oleh holding tersebut tanpa perlu campur tangan pemerintah.
“Harusnya mereka manage dari situ, jangan ke kita lagi.” imbuhnya.
Tanggapan Istana
Istana melalui Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menanggapi sikap Menkeu Purbaya yang tegas menolak APBN diikutsertakan menanggung beban utang proyek kereta cepat Whoosh yang dikerjakan oleh KCIC.
Namun, lanjut Mensesneg, Prasetyo Hadi menyatakan bahwa pemerintah sedang mempelajari skema alternatif pembiayaan agar proyek tetap beroperasi sehat tanpa menambah beban fiskal.
“Beberapa waktu yang lalu juga sudah dibicarakan untuk diminta mencari skema, supaya beban keuangan itu bisa dicarikan jalan keluar gitu.” Ujar Prasetyo Hadi dalam keterangan Pers usai rapat terbatas di kediaman Presiden Prabowo, Jakarta, pada Minggu (12/10/2025).
Bagaimana Nasib Whoosh?
Dengan penegasan Menkeu Purbaya bahwa utang proyek Whoosh tidak akan ditanggung APBN, arah masa depan Whoosh kini berada di tangan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), yang juga menaungi sejumlah BUMN strategis, termasuk PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI.
Pemerintah memang menolak opsi penggunaan dana negara, namun di sisi lain tengah mempelajari sejumlah skema alternatif agar proyek strategis ini tetap bisa berjalan tanpa membebani fiskal.
Lalu, bagaimana nasib Whoosh ke depan? Apakah proyek ambisius ini mampu melaju secepat namanya, atau justru tersendat oleh beban finansial yang belum terurai?
Penulis: Ayu Andayani Saputri