Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Inflasi Gunungkidul September 2025 Tercatat 2,43 Persen di Bawah Kota Jogja, Dipicu Kenaikan Harga Pangan

Yusuf Bastiar • Rabu, 1 Oktober 2025 | 22:48 WIB

Sepanjang September 2025 Gunungkidul mengalami kenaikan harga di beberapa komoditas utama seperti daging ayam ras, buncis, dan cabai merah.
Sepanjang September 2025 Gunungkidul mengalami kenaikan harga di beberapa komoditas utama seperti daging ayam ras, buncis, dan cabai merah.
GUNUNGKIDUL - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Gunungkidul mencatat laju inflasi tahunan (year-on-year) pada September 2025 sebesar 2,43 persen.

Angka ini dihitung dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 104,96 pada September 2024 menjadi 107,51 pada September 2025.

Kepala BPS Gunungkidul Joko Prayitno menjelaskan, bahwa inflasi tersebut terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang memberi andil inflasi terbesar.

“Kelompok ini mencatat inflasi y-on-y sebesar 4,31 persen, dengan kontribusi 1,34 persen terhadap inflasi umum. Komoditas yang paling dominan mendorong inflasi antara lain beras, daging ayam ras, rokok kretek mesin, dan bawang merah,” ungkap Joko saat ditemui di Gedung BPS Gunungkidul pada Rabu, (1/10/2025).

Selain pangan, Joko menambahkan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga memberi pengaruh cukup besar dengan andil 0,46 persen.

Sementara itu, inflasi bulanan Gunungkidul pada September 2025 tercatat hanya 0,05 persen, sedangkan inflasi tahun kalender mencapai 1,58 persen.

Menurutnya, jika dibandingkan dengan kabupaten/kota lain di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, inflasi Gunungkidul sebesar 2,43 persen masih berada di bawah Kota Yogyakarta yang mencapai 2,72 persen.

Angka ini, lanjut Joko, menunjukkan pola inflasi Gunungkidul relatif moderat dan masih dalam batas aman.

Meski begitu, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat fluktuasi harga pangan sering terjadi menjelang momentum besar seperti Natal dan Tahun Baru.

“Kenaikan harga pada jasa perawatan tubuh, emas perhiasan, serta kebutuhan rumah tangga lainnya menjadi faktor pendorong inflasi di kelompok ini,” jelasnya.

Kendati demikian, tekanan inflasi bulanan masih cenderung terkendali.

Hal ini diungkapkan langsung oleh Statistik Ahli Pertama BPS Gunungkidul, Ardiyas Munsyianta, menegaskan bahwa kondisi ini menunjukkan tekanan inflasi masih relatif terkendali.

Hal ini disebabkan kenaikan harga di beberapa komoditas utama seperti daging ayam ras, buncis, dan cabai merah, namun terdapat pula komoditas yang mengalami penurunan harga sehingga menahan laju inflasi, seperti bawang merah, tomat, cabai rawit, dan beberapa jenis buah-buahan.

Ia menambahkan, dinamika harga komoditas pangan masih menjadi faktor utama yang memengaruhi fluktuasi inflasi di tingkat daerah.

“Stabilitas pasokan pangan perlu terus dijaga, terutama menjelang musim penghujan dan periode akhir tahun yang biasanya diikuti peningkatan permintaan masyarakat,” imbuhnya. (bas)

Editor : Bahana.
#Gunungkidul #inflasi #harga pangan