Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Gujahe dari Pleret, Bantul Meramu Rasa, Tradisi, dan Perjuangan dari Modal Rp 500 Ribu Tembus Pasar Malaysia

Magang • Minggu, 21 September 2025 | 10:30 WIB

 

Tak Sekadar Manis, Gujahe dari Pleret, Bantul Meramu Rasa, Tradisi, dan Perjuangan dari Modal Rp 500 Ribu Tembus Pasar Malaysia
Tak Sekadar Manis, Gujahe dari Pleret, Bantul Meramu Rasa, Tradisi, dan Perjuangan dari Modal Rp 500 Ribu Tembus Pasar Malaysia

 

Produk Gujahe, produsen gula jahe khas Bantul yang berlokasi di Kerto RT 9, Pleret, Bantul mulai go ekspor. Mereka berhasil mempertahankan cita rasa tradisional sekaligus mengembangkan pemasaran hingga ke luar negeri.

Semua bermula pada 2006. Saat itu, Hani Meilana dan keluarganya hanya bermodalkan Rp 500 ribu dan tekad untuk mencoba peruntungan dari resep warisan. Produksi harian? Hanya dua kilogram gula dan jahe. Pemasarannya pun dilakukan dari pintu ke pintu, dari kantor ke kantor.

“Awalnya cuma coba-coba. Tapi waktu ikut pameran pertama, produk kami langsung ludes. Dari situ kami makin percaya diri,” kenang Hani, yang kini menjadi generasi kedua penggerak usaha Gujahe, kepada Radar Jogja, Jumat (19/9).

Kini, usaha yang dulu hanya menghasilkan dua kilogram per hari, mampu memproduksi hingga dua kuintal. Omzet pun melonjak, mencapai rerata Rp2 juta – Rp 4 juta per hari. Atau sekitar Rp25 juta – Rp 40 juta per bulan.

Untuk pasarnya pun tak hanya dari Bantul dan DIJ. Tapi juga menjangkau kota-kota besar di Indonesia. Bahkan kini hingga Malaysia.

“Dulu kami door to door. Sekarang sudah punya sales sendiri dan aktif promosi lewat media sosial. Banyak pelanggan tetap dari kalangan muda sampai lansia,” tambahnya.

Tidak seperti produksi massal pabrik, Gujahe masih mempertahankan proses rumahan yang teliti. Mulai dari jahe emprit pilihan yang kecil namun pedas, dicuci bersih hingga tiga kali, lalu digiling secara manual dengan mesin khusus. Proses dilanjutkan dengan pemerasan tangan, dan perebusan bersama campuran gula pasir, gula aren, daun jeruk, pandan, dan serai.

Seluruh proses ini memakan waktu sekitar dua jam sebelum campuran dicetak dengan cetakan unik. Yang justru menjadi ciri khas mereka. Dia mengenang, dulu pernah ada yang retur karena kurang matang.

“Sejak itu, kami makin hati-hati. Kami pastikan semua matang sempurna sebelum dikemas,” ujar Hani.

Gujahe bukan hanya cerita tentang sukses berbisnis. Usaha ini juga memberi manfaat langsung ke lingkungan. Karyawan yang bekerja di dapur Gujahe semuanya warga sekitar. “Kami ingin tumbuh bersama. Kalau usaha ini berkembang, masyarakat juga ikut merasakannya,” tutur Hani.

Meski bisnis mulai besar, Hani tetap memegang teguh prinsipnya: tidak takut ditiru. “Kalau ada yang meniru, saya anggap itu artinya produk kami bermanfaat,” tuturnya. “Rezeki itu sudah ada yang ngatur. Fokus kami ya terus inovasi, bikin varian baru seperti kunir asem atau beras kencur.”

Bagi Hani, kunci sukses bukan sekadar pada resep. Tapi konsistensi dan keberanian memulai. Ia pun membagikan semangat kepada generasi muda yang ingin merintis usaha sendiri.

“Mulai saja dari yang kecil. Jangan tunggu punya modal besar. Yang penting konsisten, niatnya jelas. InsyaAllah, hasilnya akan datang sendiri,” ucapnya penuh keyakinan.

 

Di siang itu, gula jahe yang baru saja dicetak tampak berkilau di atas meja kayu. Hangat, harum, dan siap dinikmati. Sebuah simbol perjalanan panjang dari dua kilo jahe sederhana, menjadi dua kintal harapan setiap harinya. (Sarah Yuni Utami)

Editor : Heru Pratomo
#gula #Gujahe #Malaysia #pleret #jahe #Bantul #modal #Go Ekspor