JOGJA - Fenomena rombongan jarang beli (rojali) dan rombongan hanya nanya (rohana) tidak hanya ada di Indonesia.
Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) I Wayan Nuka Lantara menyebut, fenomena itu juga jamak terjadi di beberapa negara maju. Misalnya, Jerman, dan Jepang.
”Di Jepang, orang lebih banyak window shopping tanpa membeli. Jadi bukan hanya di Indonesia," ujar Wayan, sapaannya, melalui sambungan telepon, kemarin (25/8).
Secara global, Wayan berpendapat fenomena itu akibat daya beli sedang mengalami tekanan.
Di Indonesia, kata Wayan, ada dua faktor utama yang mendorong fenomena tersebut.
Baca Juga: Ekonomi Belum Pulih, Rojali dan Rohana juga Hinggapi Sleman City Hall
Pertama, kenaikan harga kebutuhan pokok seperti beras dan daging yang memicu inflasi. Kondisi itu membuat masyarakat melakukan realokasi anggaran.
”Akibatnya, belanja non-esensial seperti pakaian atau produk gaya hidup di mal menjadi prioritas kedua," jelasnya.
Kedua, pergeseran perilaku belanja pascapandemi Covid-19. Kebiasaan membeli barang secara daring terus berlanjut karena perbedaan harga yang signifikan dibandingkan di mal.
Banyak pengunjung pergi ke mal hanya untuk melihat produk secara langsung. Namun, mereka kemudian berbelanja secara online.
”Fenomena ini dikenal sebagai showrooming," ungkapnya.
Jika kondisi ini berlanjut, Wayan khawatir bisnis ritel bisa terpukul dan berpotensi menimbulkan pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor pusat perbelanjaan.
Karena itu, ia menekankan perlunya langkah antisipatif dari pemerintah.
Menurutnya, ada dua pihak perlu mendapat perhatian pemerintah. Pertama, pelaku usaha ritel. Caranya melalui insentif pajak atau stimulus seperti penyelenggaraan event di mal.
Kedua, masyarakat. Caranya melalui pengendalian inflasi agar daya beli terjaga.
"Tanpa itu, kelas menengah yang menopang konsumsi justru akan tergerus," paparnya.
Ia menambahkan, pertumbuhan ritel di Indonesia saat ini masih di bawah rata-rata ASEAN yang mencapai enam persen per tahun. Sedangkan Indonesia berada di bawah lima persen.
Mal di Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai pusat perbelanjaan, tetapi juga sebagai ruang publik dan tempat mencari penghidupan bagi banyak tenaga kerja.
"Karena itu, sinergi pemerintah dengan asosiasi ritel harus semakin diperkuat," tambahnya. (iza/zam)
Editor : Herpri Kartun