Proyek ini bermula dari pembahasan teknis sejak Mei 2024 dan kini tengah dimodifikasi di UPT Balai Yasa Surabaya Gubeng.
Kereta ini dibuat khusus untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, kata Anne Purba, Vice President Public Relations KAI.
Di sisi kiri dan kanan, kursi disusun sejajar, menciptakan ruang tengah yang luas untuk hasil panen dan barang dagangan.
Untuk mempermudah akses, lebar pintu bordes diperbesar dari 800 mm menjadi 900 mm, dan sekat dan partisi dihilangkan. Akibatnya, jumlah kursi turun dari 106 menjadi 73.
Meskipun kapasitas kursi menurun, kenyamanan tetap diperhatikan,ada satu toilet per kereta dan rak bagasi.
Uji coba dilakukan di jalur Surabaya–Lamongan dengan uji dinamis dan statis.
Sebelum kereta dijalankan secara resmi, sertifikasi keselamatan akan dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kemenhub.
Anne mengatakan bahwa inovasi ini merupakan bagian dari komitmen KAI untuk meningkatkan hubungan ekonomi lokal dan menyediakan transportasi yang dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Akibatnya, kereta api bukan hanya alat transportasi tetapi juga "sahabat perjalanan" bagi petani dan pedagang, membangun rantai pasokan dan membuka peluang bisnis baru.
Dalam Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP), proyek ini sejalan dengan visi jangka panjang nasional menuju Indonesia Emas 2045 dan misi strategis perusahaan, yang berfokus pada penyediaan transportasi publik yang inklusif dan ramah lingkungan.
Pada 28 September 2025, peluncuran kereta ini adalah bagian dari perayaan HUT ke-80 KAI.
Penulis: Syafarina Nurul Insania
Editor : Bahana.