Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kebijakan Tarif Resiprokal Trump Berpotensi Pengaruhi Ekspor DIY

Agung Dwi Prakoso • Jumat, 11 Juli 2025 | 05:00 WIB
TERDAMPAK: Perajin menyelesaikan produksi kerajinan berbahan dasar bambu di Desa Wisata Brajan, Kapanewon Minggir, Sleman, kemarin (10/7).
TERDAMPAK: Perajin menyelesaikan produksi kerajinan berbahan dasar bambu di Desa Wisata Brajan, Kapanewon Minggir, Sleman, kemarin (10/7).

JOGJA - Pemprov DIY optimistis pemerintah pusat mampu menegosiasi kebijakan tarif resiprokal sebesar 32 persen dari Donald Trump. Alasannya, posisi politik luar negeri bebas aktif Indonesia dapat menentukan negosiasi yang sedang berjalan.

”Indonesia tidak terikat oleh salah satu negara," ujar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY Yuna Pancawati melalui sambungan telepon, kemarin (10/7).

Menurutnya, Indonesia selalu berusaha membangun jaringan dan komunikasi dengan negara yang bisa diajak kerja sama. Khususnya untuk meningkatkan perekonomian masing-masing negara.

”Selain BRICS, Indonesia juga mengikuti berbagai kerjasama seperti ASEAN, RECP, EFTA, APEC dan masih banyak lagi," tuturnya.

Keikutsertaan Indonesia dalam BRICS juga berpotensi menaikkan kebijakan tarif impor. Hal tersebut karena Trump akan menetapkan tarif tambahan sebesar 10 persen bagi negara anggota BRICS.

"Pemda DIY tentunya mengikuti kebijakan dari pemerintah pusat dalam implementasinya," bebernya.

Di lain sisi, keikutsertaan Indonesia dalam berbagai organisasi Internasional menjadi peluang ekonomi bagi Indonesia. Ketidakberpihakan di salah satu negara di dunia diharapkan dapat memperluas mitra perdagangan dan saling menguntungkan.

”Walaupun memang Amerika menjadi negara tujuan utama ekspor DIY," ucapnya.

Saat ini, Indonesia masih dalam proses negosiasi tarif resiprokal dengan Amerika Serikat. Ia berharap keputusan dalam negosiasi tersebut dapat menguntungkan Indonesia. Khususnya bagi kegiatan impor-ekspor DIY.

"Kami percaya bahwa pemerintah Indonesia sudah menyiapkan negosiasi dan diplomasi untuk mencegah mispersepsi posisi Indonesia di BRICS," jelasnya.

Amerika yang menjadi negara tujuan utama ekspor di DIY dapat dilihat dari jumlah ekspor pada Januari-April yang mencapai 41,74 persen. Salah satu langkah antisipasi yang dilakukan adalah mencari sasaran pasar baru se luas-luasnya.

”Mendorong agar pelaku usaha DIY juga membuka pasar ke negara lain," tandasnya.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY Herum Fajarwati mengatakan, ekspor Januari-Mei 2025 terbesar adalah ke Amerika Serikat sebesar 93,03 juta US Dolar (USD). Disusul Jerman sebesar 28,65 juta USD dan Jepang sebesar 18,08 juta USD dengan kontribusi ketiganya mencapai 63,06 persen.

"Amerika Serikat merupakan negara tujuan ekspor terbesar berperan sebesar 41,74 persen," ujarnya.

Komoditas utama yang dikirim ke Amerika Serikat, antara lain, pakaian dan aksesorinya sebesar 33,28 juta USD atau 35,77 persen, barang dari kulit samak 16,88 juta USD atau 18,14 persen, dan pakaian dan aksesorinya (rajutan) 13,67 juta USD atau 14,69 persen.

"Ekspor non migas terbanyak ke Amerika Serikat," tuturnya. (oso/zam)

 

 

Editor : Herpri Kartun
#Ekspor DIY #Pemprov DIY #tarif resiprokal #trump #Amerika Serikat