JOGJA - Pameran Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Circular Fashion and Craft Week resmi dibuka di Mutiara Malioboro Concept Store, Selasa (8/7). Para pelaku usaha menawarkan hal baru. Produk busana dan kerajinan dari bahan bekas atau sisa yang dapat mengurangi sampah.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM DIY Srie Nurkyatsiwi mengatakan, dalam arus modernisasi dan perkembangan zaman, pelaku UMKM harus terus berinovasi. Memunculkan kreativitas dan beradaptasi dalam produknya.
Salah satu hasilnya dengan adanya pameran Circular Fashion and Craft Week tersebut. Itu menjadi bukti nyata yang menunjukkan pelaku usaha itu mampu beradaptasi.
"Produk yang dihasilkan sangat luar biasa karena memanfaatkan hasil sisa," ujarnya saat membuka acara.
Menurut dia, para pelaku usaha tidak harus menunggu untuk mendatangkan bahan baru supaya bisa menghasilkan produk. Nyatanya, melalui produk circular ekonomi, mereka mampu memproduksi barang dari bahan sisa. "Ini ada value sendiri, bagaimana kita tidak menyumbangkan sampah dari hasil produksi," ajaknya.
Selain itu, Siwi, sapaan akrabnya, melihat ada peluang besar produk-produk tersebut untuk bisa menembus pasar internasional. Terlebih dengan upaya branding produk dengan mengedepankan narasi terkait proses pembuatan produk circular.
"Calon pembeli diberi tahu produk ini dapat mengurangi sampah. Lalu ada datanya bisa mengurangi berapa persen dalam satu produk," jelasnya.
Ketua Koperasi Java Parama Niaga (JPN) Pratiwi menambahkan, pameran tersebut dalam rangka memperingati Hari Koperasi. Ini menjadi salah satu rangkaian beberapa acara.
Dimulai dari workshop dan diakhiri fashion show anak yang produknya circular. "Ini pameran produk yang diikuti UKM pegiat green lifestyle yang produknya terbuat dari bahan sisa," terangnya.
Sebanyak 20 pelaku UMKM se-DIY ikut memamerkan karyanya dalam berbagai bentuk. Semua karya yang dipajang berasal dari limbah. Atau sisa-sisa produksi yang didaur ulang sehingga menghasilkan produk bernilai tinggi.
"Ada yang dari sampah, perca dibikin vest, daster atau jlantah (minyak bekas, Red) yang dibikin sabun," tuturnya.
Harapannya even tersebut dapat menjadi satu gerakan bagi para pelaku UMKM lebih peduli dengan barang-barang yang dianggap sisa atau sampah.
Circular merupakan gebrakan baru karena banyak pelaku UMKM belum menyadari bahan sisa yang dibuat karya bermakna bagi lingkungan.
"Kami buat wadah untuk kolaborasi, bareng-bareng gini kan promosinya jadi lebih mudah dan kebetulan juga didukung Pemda DIY," bebernya.
Gebrakan tersebut juga bertujuan menggugah masyarakat agar mau membeli produk lokal. Khususnya yang berdampak bagi kelestarian lingkungan.
Kemungkinan nanti akan digelar pengumpulan barang-barang bekas seperti jeans sebagai bahan pembuatan produk circular. "Nanti akan kami buat rutin setiap bulan acaranya," ucapnya. (oso)
Editor : Heru Pratomo