JOGJA - Pertumbuhan ekonomi di DIY menunjukkan tren positif. Namun, tantangan global masih menjadi bayang-bayang bagi pelaku usaha, terutama mereka yang bergantung pada bahan baku impor.
Ketua Umum Badan Pengurus Cabang (BPC) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Jogja R Lucky Nurhadi Kurniawan mengatakan, banyak pelaku usaha, terutama yang bergerak di sektor pariwisata dan turunannya seperti kuliner serta oleh-oleh, terdampak kondisi ekonomi global.
“Beberapa pengusaha cukup terdampak karena bahan baku yang digunakan masih impor dari negara lain,” ujarnya saat ditemui di Sekretariat HIPMI Kota Jogja, Jumat (30/5/2025).
Lucky menilai, gejolak ekonomi global seperti dampak kebijakan perdagangan Amerika Serikat dan permasalahan lain yang membuat harga bahan baku tak stabil.
Hal itu menyulitkan pengusaha muda yang baru saja bangkit dari tekanan pandemi.
“Setelah pandemi, kami masih harus menghadapi tantangan global seperti sekarang ini,” keluhnya.
Selain kendala impor, HIPMI juga mencermati rendahnya daya beli masyarakat yang ikut memengaruhi stabilitas usaha.
Hal ini menjadi pekerjaan rumah bersama. Organisasinya kini sedang mempersiapkan musyawarah cabang (Muscab) yang akan membahas strategi penguatan internal, termasuk rencana pergantian kepemimpinan.
"Harapan kami sumber daya manusia (SDM) yang menjadi aset HIPMI bisa memanfaatkan peluang," bebernya.
HIPMI Kota Jogja saat ini menaungi sekitar 160 pengusaha muda yang bergerak di berbagai bidang.
Mulai dari kuliner, industri kreatif, produk oleh-oleh hingga skincare. Mayoritas usaha tersebut menopang sektor pariwisata yang menjadi unggulan di Kota Jogja.
"Bisa jadi produk oleh-oleh maupun paket wisata ke suatu obyek," jelasnya.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY Eko Yunianto menyampaikan, secara umum ekonomi DIY tumbuh positif pada triwulan I 2025. Hampir seluruh sektor usaha mencatatkan pertumbuhan.
Enam sektor terbesar yakni industri pengolahan (11,99 persen), pertanian (11,89 persen), akomodasi dan makan minum (10,65 persen), informasi dan komunikasi (9,55 persen), serta konstruksi (8,70 persen).
"Akomodasi dan makan minum naik years on year sebesar 5,20 persen," ujarnya.
Dari sisi pariwisata, kunjungan wisatawan Nusantara ke DIY pada Januari–Maret 2025 tercatat sebanyak 10.240.350 perjalanan, naik 3,49 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yakni 9.894.680 perjalanan.
Namun, ada catatan penurunan pada tingkat penghunian Kkamar (TPK) hotel berbintang dan nonbintang.
TPK hotel berbintang pada Maret tercatat sebesar 23,15 persen, turun 29,19 poin dibanding bulan sebelumnya. Adapun TPK hotel nonbintang turun menjadi 11,89 persen, merosot 9,57 poin dibandingkan bulan sebelumnya.
"Meski begitu, secara umum pertumbuhan ekonomi DIY triwulan I 2025 tumbuh positif dibandingkan triwulan 4 2024," tuturnya. (oso/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita