SLEMAN - Nilai ekspor pada 2024 untuk produk Kabupaten Sleman mencapai 96 juta USD. Produknya didominasi oleh sarung kulit sintetis, produk garmen, serta mebel dan kerajinan.
"Namun kalau dilihat angka pertumbuhannya mengalami penurunan," kata Ketua Tim Kerja Distribusi dan Pemasaran Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sleman Fitriana Nurhayati kemarin (30/4).
Dia menyebut nilai ekspor memang dinamis dan dipengaruhi berbagai faktor. Terbaru, kebijakan tarif dari Amerika Serikat juga turut memberikan pengaruh. "Jumlah produk Sleman yang diekspor ke Amerika mencapai 30 persen," katanya.
Fitriana menjelaskan, hingga saat ini kendala yang dihadapi masih sebatas penundaan maupun pengurangan jumlah produk ekspor ke Amerika. Belum ada pembatalan.
"Tantangan yang lain adalah ketika diterapkan kebijakan karantina untuk produk tumbuhan dan hewan," tambahnya.
Dia menyebut, pihaknya terus mendorong produk Sleman untuk bisa dikenal di luar negeri. Hal ini dilakukan dengan pendampingan maupun pemberian fasilitas pemasaran.
"Ekspor untuk UMKM kami lihat masih kecil nilainya. Ketika belum bernah ekspor, harus ada mitra. Negosiasi dengan pembeli itu butuh pengalaman baru bisa mandiri," terangnya.
Sementara itu, salah satu pengusaja kerajinan di Sleman Qurratul Uyun mengaku, tantangan utama adalah persaingan yang ketat. Sebab pemasaran produknya sendiri masih bergantung pada penjualan daring.
"Saya sendiri masih belum tahu cara pengajuan bantuan atau ikut pelatihan dari pemerintah," ucapnya. (del/eno)
Editor : Herpri Kartun