JOGJA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif impor baru pada 2 April 2025. Langkah ini sebagai bagian dari Liberation Day, yakni strategi besar untuk membebaskan ekonomi Amerika dari ketergantungan pada impor.
Semua barang impor kini dikenai tarif dasar sebesar 10 persen. Namun negara-negara dengan defisit perdagangan besar terhadap AS mendapat tarif tambahan. Indonesia termasuk dalam daftar yang terkena dampak terbesar dengan tarif mencapai 32 persen.
CEO Woodeco Indonesia Agung Setiawan mengatakan, produk ekspor ke Amerika Serikat kini dikenakan tarif total sebesar 42 persen. Sebelumnya, tarif yang dikenakan hanya 10 persen.
"Barang ekspor saya sudah berangkat akhir Februari, tetapi belum sampai di Amerika. Diperkirakan sampai sekitar pertengahan April," kata Agung Senin (7/4).
Dia mengungkapkan, pembeli di Amerika juga sempat menghubunginya untuk menanyakan barang yang telah dikirimkan apakah dikenakan tarif tambahan 42 persen. Untuk pesanan yang akan datang, Agung menyebut harga akan direvisi.
"Orderan yang akan datang pada bulan Juli kemungkinan akan terpengaruh, karena kemungkinan besar akan dikenakan tarif 42 persen," ujarnya.
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian melalui siaran pers pada 6 April 2025 menyatakan, kemungkinan besar produk kerajinan Indonesia tidak akan terkena tarif tambahan 32 persen yang diterapkan Amerika Serikat. Meskipun demikian, keputusan tersebut masih belum pasti.
Agung mengatakan, pihaknya masih dalam posisi wait and see dan menunggu konfirmasi dari pembeli di Amerika. Terkait barang yang telah dikirimkan akan dikenakan tarif tambahan itu atau tidak. “Terkait komoditi yang diekspor ke Amerika, kami masih wait and see bulan April ini,” ucapnya.
Kenaikan tarif bea impor ini berdampak pada pembeli yang meminta revisi harga. Namun Agung menegaskan permintaan revisi harga tersebut tidak dapat dipenuhi. "Buyer minta revisi harga, tapi saya bilang itu tidak bisa karena menyangkut harga produksi yang juga sudah tinggi," jelasnya.
Jika produk kerajinan terkena tarif bea tambahan sebesar 42 persen, Agung berencana mengurangi ukuran produk dengan menipiskan ketebalan barang. Seperti mengubah ketebalan barang dari 4 cm menjadi 2 cm. "Dengan cara ini, harga produk bisa turun sekitar 40 persen, cukup untuk menutupi tarif bea 42 persen itu," katanya.
Namun, dia juga menekankan jika produk kerajinan tidak terkena dampak tarif tambahan, mereka akan tetap melanjutkan ekspor seperti biasa. "Kalau tidak terdampak, ya jalan seperti biasa," lanjutnya.
Di sisi lain Agung mengungkapkan jika kebijakan tarif tersebut berlaku untuk produk kerajinan, dampaknya bisa sangat besar. Dia memprediksi akan terjadi penurunan order secara drastis dari pembeli Amerika Serikat. Sebab mereka akan kesulitan menjual produk dengan harga yang lebih tinggi. "Perajin juga akan terdampak. Mungkin akan ada PHK besar-besaran dan proses reorder, macam-macam," ungkapnya.
Dia menuturkan, bagi UKM yang hanya mengandalkan pasar Amerika Serikat, situasi ini jelas akan menjadi tantangan besar. Namun, Woodeco Indonesia yang memiliki pembeli di berbagai negara seperti Australia, Asia, Timur Tengah, dan Eropa, tidak terlalu terpengaruh jika pasar Amerika Serikat berkurang.
"Saya punya buyer di berbagai negara. Jadi kalau buyer Amerika tidak beli, saya bisa fokus ke buyer lain seperti Australia, Asia, dan Timur Tengah," tuturnya.
Agung menyebut, ekspor ke Amerika Serikat bukanlah bagian terbesar dari penjualannya. Hanya sekitar 10 persen dari total ekspor dari perusahaannya. Meski begitu, dia tetap menjaga diversifikasi pasar. “Produk yang diekspor ke Amerika Serikat sejauh ini ada bambu besek, tableware, gerabah terakota, serta barang dapur berbahan aluminium,” jelasnya.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY Yuna Pancawati menyebut, kebijakan Trump sangat berdampak pada ekspor DIY. Sebab, selama ini Amerika Serikat menjadi tujuan utama ekspor DIY. Persentasenya mencapai 43,19 persen dari total ekspor DIY.
“Ekspor ke Amerika sebesar 212,33 juta dolar AS tahun 2023. Meningkat tahun 2024 menjadi 236,25 juta dolar AS," ujarnya.
Yuna menyampaikan, ada sejumlah produk unggulan DIY yang selama ini masuk ke pasar Amerika Serikat. Di antaranya barang dari kertas atau karton, kerajinan anyaman, barang dari kulit atau sarung tangan, garmen, dan furnitur. Kemudian ada kerajinan dari batu atau semen dan kayu, serta gula semut.
Dia menyebut, usai diumumkannya kebijakan kenaikan bea ekspor ke Amerika Serikat, pihaknya akan mencoba membidik pasar ekspor lainnya. "Terkait pasar lain selain Amerika, kami tetap bidik Eropa, Asia, dan Uni Emirat Arab," katanya. (tyo/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita