SLEMAN - Momentum libur Lebaran membawa berkah bagi pelaku usaha yang menjual oleh-oleh.
Termasuk pedagang salak pondoh yang merupakan buah khas Kabupaten Sleman.
Pedagang salak pondoh sendiri banyak ditemui di sepanjang Jalan Jogja-Solo. Mereka biasanya berjualan menggunakan mobil pick up.
Antara satu pedagang dengan yang lain saling berjarak beberapa meter. Umumnya mereka juga memasang papan informasi berikut dengan harga salaknya.
Baca Juga: Malioboro Masih Jadi Destinasi Favorit, Kawasan Teras Dikunjungi Puluhan Ribu Wisatawan
Salah satu pedagang salak Bayu Aji menjelaskan, saat hari biasa umumnya penjualan salak sangat sepi. Bahkan, bisa hanya terjual lima kilogram saja. "Lebaran ini lumayan ramai, sehari bisa 100 kilo," katanya.
Dia yang buka sejak pukul 08.00 hingga 21.00 menyebut, pada momen ini juga terjadi kenaikan harga.
Apabila salak yang berkualitas bagus, biasanya dibanderol harga Rp 18 ribu kini bisa mencapai Rp 38 ribu.
Baca Juga: Terjerat Kasus Kekerasan Seksual terhadap Mahasiswanya, Guru Besar Farmasi UGM Dibebastugaskan
Hal senada diungkapkan oleh Tahmidi. Dia menyebut saat hari biasa salak yang terjual hanya 50 kilogram, sementara saat libur Lebaran dalam sehari bisa mencapai 200 kilogram.
"Omzet tiga kali lebih besar. Minimal Rp 1,5 juta sehari," bebernya.
Ia juga mengakui adanya kenaikan harga salak, lantaran saat ini bukan musim panen. Selain itu, ongkos transportasi turut meningkat akibat kondisi jalan yang macet, sehingga menambah beban biaya distribusi.
Baca Juga: Libur Lebaran Hotel di DIY Lebih Sepi, Target Sudah Diturunkan Tetap Tak Tercapai
"Kalau hari biasa salak pondoh paling mahal Rp 15 ribu, tapi ini bisa Rp 20 ribu," jelasnya.
Tahmidi menjelaskan, salak pondoh yang dijual harganya bervariasi, mulai Rp 5 ribu, Rp 10 ribu, sampai Rp 20 ribu. Sementara untuk salak madu harganya bisa dua kali lipat.
"Memang salak itu paling enak dari Sleman. Paling tahan lama juga kalau dibanding daerah lain," tambahnya.
Baca Juga: Berburu Sunrise di Libur Lebaran, Sempat Terjadi Kemacetan di Puncak Gunung Telomoyo
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman Ishadi Zayid memprediksi, rata-rata belanja wisatawan di Bumi Sembada berada di antara Rp 1 juta sampai Rp 1,5 juta.
Jumlah tersebut termasuk untuk akomodasi, makan minum, tiket masuk destinasi, belanja oleh-oleh, dan lain-lain.
"Peredaran uang dari wisatawan berada di antara Rp 600 miliar sampai dengan Rp 1,69 triliun," katanya. (del/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita