JOGJA - UMKM tumbuh dan berkembang di mana-mana dan menjadi salah satu lini penguatan perekonomian bangsa.
Namun, seringkali mereka berjalan sendiri tanpa pendamping dan penunjuk arah.
Sebagian besar berjalan tertatih-tatih meskipun tak sedikit juga yang sukses menaklukkan pasar.
Tak banyak ahli yang mau membersamai UMKM secara total.
Namun, ada sosok Edy SR yang memilih jalur langka itu.
Dengan bendera BrandPreneur Coaching, Edy hampir 15 tahun tanpa mengeluh berpindah dari satu kota ke kota lainnya untuk menularkan ilmunya.
Untuk satu tujuan: agar UMKM sadar branding dan bisnisnya memiliki brand identity yang kuat.
Banyak UMKM produknya bagus dan layak jual.
Harusnya bukan hanya di daerahnya tapi bisa meluas ke mana-mana.
Potensi pasar kita besar karena jumlah penduduk Indonesia hampir 300 juta.
Problemnya, rata-rata mereka fokus pada produk dan melupakan branding.
Padahal, yang dibeli konsumen itu sebenarnya brand bukan produk.
"Itu dua hal yang berbeda," jelasnya.
Menurut Edy SR, produk dan brand adalah dua entitas yang beda.
Produk itu adanya di tempat produksi, di pabrik, toko, dan gudang.
Sementara brand adanya di benak dan pikiran konsumen.
Konsumen selalu memilih dan membeli produk yang sudah ada di benaknya, lalu mengesampingkan produk lain yang serupa.
Gampangnya produk itu berbentuk fisik.
Sedangkan brand bentuknya persepsi.
Nah, yang harus digarap oleh UMKM agar bisnisnya berkembang adalah menguatkan brand setelah punya produk unggulan.
Saya mengajari pelaku UMKM ini agar bergeser dari sekadar memproduksi dan menjual barang menuju level yang lebih tinggi.
Yakni, membangun dan menguatkan brand produk itu.
"Antara lain dimulai dari membuat merek, logo, tagline, dan desain kemasan yang menarik atau unik," papar alumnus Diploma Komunikasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini.
Secara ilmu akademik, ilmu branding itu memang rumit.
Itulah sebabnya agar mudah dipraktikkan oleh UMKM maka Edy memodifikasi jurus branding itu secara lebih sederhana.
Branding konsep VVE. Begitu ia menyebutnya.
Brand bisa dibangun dengan konsisten lewat konsep VVE, apa pun produknya.
Bisa barang, bisa jasa.
Caranya dengan mengoptimasi branding dengan jurus Verbal, Visual, dan Experience.
Produk harus diceritakan secara verbal dengan story telling yang menarik.
Untuk menguatkan harus didukung visualisasi yang unik baik lewat kemasan boks, foto produk, atau video promosi.
Terakhir, experience dari konsumen yang mencoba produk tadi juga harus disebarkan ke publik agar lebih dikenal luas dan melahirkan tiga dampak, yakni repeat, recommendation, dan evangelis.
"Jika ketiganya digarap konsisten maka produk akan mudah diterima pasar secara masif," tandasnya.
Selain sering diminta Dinas Perindustrian, Dinas Koperasi & UMKM, Dinas Sosial, Bank Indonesia, BUMN, dan institusi pemerintah lainnya untuk mengisi pelatihan, Edy juga banyak diminta mendampingi komunitas atau organisasi yang konsen di dunia bisnis.
Mulai mengatur strategi branding, menata langkah-langkahnya, atau merebranding produk yang gagal di pasar.
"BrandPreneur pernah diminta Coca Cola keliling Indonesia untuk membranding perusahaan ini agar dikenal sebagai perusahaan yang peduli pada pembinaan sepakbola generasi muda."
"Proyek setahun yang melelahkan tapi juga menyenangkan. Itu salah satu portofolio yang menegangkan tapi akhirnya berhasil kita tunaikan," tandasnya.
Produk UMKM yang pernah dibantu dan didampingi dari nol juga banyak.
Antara lain Biyantie, produk tas wanita asal Yogya, yang awalnya hanya produk handmade yang dikelola asal-asalan tanpa konsep yang jelas.
Produknya memang laku di pasar tapi sangat lambat pertumbuhannya.
Ia diminta untuk mengonsep ulang strateginya dan sekarang berhasil menjadi brand tas wanita yang dikenal secara nasional.
Sekarang Biyantie bukan saja menguasai pasar nasional. Tapi juga melahirkan para evangelis di komunitas ibu-ibu penggemar tas wanita.
Evangelis itu artinya produk itu bukan saja direkomendasikan oleh konsumen yang sudah pernah membeli produk itu.
Tapi, sikapnya melebihi sebagai konsumen.
Secara sadar ikut membela keberadaan brand.
Jika ada yang mengatakan produk itu jelek, orang-orang yang di level evangelis inilah yang membela mati-matian.
Pemilik brandnya sendiri kadang tidak mengenalnya.
Dan tak berharap apa-apa dari pemilik brand.
Mereka adalah penjaga brand sukarela yang tidak mau brand itu disepelekan orang lain.
"Tentu saja, strateginya harus panjang jika mau levelnya sampai di situ," paparnya.
Menariknya, kata Edy, setiap UMKM yang mempunyai produk unggulan bisa sampai di level tersebut asal mau menerapkan secara konsisten konsep VVE.
"Yang penting harus tahu tahapan langkah dan strateginya secara tepat."
"Tidak mudah tapi juga tidak sulit," tandas aktivis Muhammadiyah ini. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin