JOGJA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY berupaya mencapai target inklusi keuangan di akhir tahun 2024 dengan capaian 90 persen.
Kaum muda menjadi sasaran edukasi literasi dan inklusi keuangan di tahun ini.
Kepala OJK DIY Eko Yunianto mengatakan, berdasarkan hasil survei nasional, literasi keuangan di DIY saat ini sebesar 65,43 persen. Sementara indeks inklusi sebesar 75,02 persen.
“Ini artinya 75 dari 100 masyarakat telah memakai produk jasa keuangan. Namun yang paham tentang pentingnya menabung dan transaksi digital bagi perkembangan perekonomian baru 65," ujarnya, Minggu (1/9/2024).
OJK DIY sendiri menargetkan angka tersebut menyentuh 90 persen di akhir 2024.
Untuk itu, OJK DIY bekerja sama dengan sejumlah pihak seperti Bank Indonesia, pemerintah daerah, dan industri jasa keuangan (IJK) untuk secara masif mengadakan literasi dan inklusi keuangan.
“Dalam rangka meningkatkan target inklusi keuangan akhir tahun 2024 sebesar 90 persen,” kata Eko.
Ia mengungkapkan, hasil survei tersebut berbeda dari hasil survei tahun 2022 lalu.
Di mana pada 2022, literasi keuangan sebesar 49 persen.
Sementara indeks inklusi sudah mencapai 85 persen.
Namun, setelah dibedah lebih dalam, perbedaan yang signifikan itu disebabkan karena metodologi survei yang digunakan berbeda.
Pada 2022 menggunakan metodologi purposive sampling dan simple random sampling.
Sementara untuk tahun 2024 menggunakan metode stratified sampling.
Perbedaan metodologi yang digunakan membuat hasil survei berbeda cukup signifikan.
“Tahun 2022 dengan inklusi 85 persen, untuk mencapai 90 persen sebenarnya tinggal 5 persen. Tapi dengan metodologi yang berbeda, ternyata hasilnya malah turun jadi 75 persen. Ini tentu lumayan berat tantangan yang dihadapi untuk mencapai 90 persen,” ucap Eko.
Sementara, survei terkait pelajar dan mahasiswa menunjukkan tingkat literasi keuangan mencapai 56,42 persen dan inklusi keuangan mencapai 62,86 persen.
Eko menyebut, pihaknya menggencarkan edukasi dan literasi kepada pelajar, yang ujungnya adalah untuk meningkatkan literasi sekaligus inklusi keuangan.
Khususnya dari kalangan pelajar dan mahasiswa.
Eko menjelaskan, yang menjadi sasaran edukasi literasi dan inklusi keuangan tahun ini salah satunya adalah anak muda.
Menurutnya, anak muda mempunyai peran strategis dalam mengembangkan kemampuan dan kompetensi untuk menyebarluaskan informasi mengenai industri jasa keuangan kepada masyarakat.
“Harapannya, para pemuda, remaja, dan mahasiswa sebagai agent of change yang punya semangat tinggi bisa membawa kemajuan bagi literasi dan digitalisasi keuangan,” katanya.
Selain anak muda, OJK DIY juga menargetkan sejumlah kelompok masyarakat seperti penyandang disabilitas, pelaku UMKM, pekerja migran Indonesia, masyarakat daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) dan ibu rumah tangga.
“Jika ingin memanfaatkan jasa keuangan dan berinvestasi, pastikan untuk mempertimbangkan dua hal yang disebut dengan 2L, yaitu legal dan logis, karena setiap investasi ada risikonya," tandas Eko. (tyo)
Editor : Meitika Candra Lantiva