RADAR JOGJA – DPD Real Estat Indonesia (REI) DIY berupaya memanfaatkan potensi pasar di kalangan mahasiswa. Sebab, Jogjakarta dikenal sebagai Kota Pelajar yang menarik perhatian mahasiswa dari berbagai daerah.
Ketua DPD REI DIY Ilham Muhammad Nur mengatakan, orangtua mahasiswa adalah target penting untuk pasar real estat di DIY. Sebab mahasiswa baru biasanya memilih indekos selama masa ospek.
Setelah ospek, orangtua mahasiswa yang punya kemampuan keuangan lebih memilih membelikan anaknya rumah daripada menyewa indekos.
Kalau sebelumnya memilih kos saat ospek, Agustus dan September ini ada pilihan mencari rumah. “Misalnya mahasiswa baru di DIY ada 50 ribu, lalu satu atau dua persennya beli rumah, itu sudah 500 sampai 1.000 unit terserap,” ujarnya, Senin (26/8).
Dari tren yang ia catat, kebiasaan di DIY adalah penjualan properti cukup baik pada semester II. Ilham menyebut, salah satu faktornya adalah mahasiswa. Menurutnya, mahasiswa adalah pasar potensial dalam penjualan properti di DIY.
Melihat adanya tren tersebut, Ilham optimistis penjualan properti pada semester II 2024 akan meningkat.Juni bagus, tapi Juli agak turun sedikit. Juli tetap ada penjualan tetapi tidak sebagus Juni. “Biasanya penjualan di semester II bagus,” katanya.
Ilham menjelaskan, salah satu motif investasi properti di DIY adalah karena anak yang menempuh pendidikan di DIY. Sehingga orangtuanya berpikir untuk membelikan rumah sekaligus untuk berinvestasi. Pembelian rumah bisa dilakukan dengan kredit pemilikan rumah (KPR) maupun tunai.
Menurutnya, DIY menjadi daerah yang menarik untuk investasi properti. Sebab, masyarakat DIY terbuka dengan para pendatang. Serta banyaknya agenda nasional membuat investor tertarik berinvestasi di DIY. “Di samping karena predikat kota pelajar dan wisata,” ucap Ilham.
Meski demikian, pasokan properti semakin sedikit. Selain Kota Jogja, Kabupaten Sleman juga masih menjadi lokasi yang diincar investor. Ilham mengatakan, pasokan properti di DIY tidak hanya dari REI. Pasokan properti REI di DIY tidak lebih dari 20 persen.
Mayoritas di atas 80 persen dipasok dari kategori secondary.
Kategori tersebut sifatnya lebih perorangan, non badan hukum, dan tidak mengikuti aturan layaknya perumahan.
Seperti orang yang membangun rumah satu hingga tiga unit untuk kemudian dijual. Atau rumah bekas kemudian diperbaiki dan dijual."Kami hanya memasok kebutuhan pasar tidak lebih dari 20 persen, sisanya pelaku properti lain," jelas Ilham.
Ia menambahkan, ke depannya, daerah yang didesain untuk perkembangan pemukiman adalah ke arah barat Jogja. Seperti area Jalan Wates di Sedayu hingga Sentolo. “Didesain pemerintah terhubung dengan aerocity bandara,” ujarnya. (tyo/din)
Editor : Satria Pradika