JOGJA – DPD Real Estat Indonesia (REI) DIY mencatat adanya kenaikan penjualan rumah pada semester I 2024.
Hanya saja, kenaikan penjualan tersebut belum sesuai dengan target DPD REI DIY.
Ketua DPD REI DIY Ilham Muhammad Nur mengatakan, kenaikan penjualan penjualan properti pada semester I di atas 10 persen.
Jumlah penjualan meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Hampir seluruh segmen terserap oleh pasar.
“Baik hunian dengan harga Rp 200 juta hingga Rp 1,5 miliar selain rumah subsidi,” ujarnya, Kamis (15/8/2024).
Kenaikan tersebut dipengaruhi adanya insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP).
Faktor PPN DTP yang diperpanjang membuat penjualan meningkat.
“Karena membantu masyarakat untuk mendapatkan rumah yang lebih murah,” kata Ilham.
Namun, kenaikan penjualan tersebut tidak sesuai dengan target DPD REI DIY.
Sebelumnya, DPD REI DIY menargetkan ada kenaikan penjualan sekitar 20 persen pada semester I 2024.
Usai Pilpres 2024, DPD REI DIY berharap adanya kepastian dari konsumen. Namun saat ini masih harus menunggu.
Sebab masih ada pilkada dan pembentukan kabinet.
“Ada kenaikan tetapi tidak sesuai yang kami harapkan,” ucap Ilham.
Ia menyebut, jika dibandingkan dengan 2019 ketika Pilpres juga berlangsung, kondisinya masih lebih bagus di 2019.
Menurutnya, penurunan ini akibat faktor daya beli. Meskipun masih perlu dibuktikan.
Selain pengaruh tahun politik, penjualan properti di DIY dipengaruhi oleh daya beli masyarakat.
Daya beli, kata Ilham, bisa saja stagnan.
Namun kenaikan harga rumah diikuti dengan kenaikan harga tanah. Sehingga penjualannya tidak meningkat.
Ia mengakui, pengusaha berharap agar pemerintah bisa menjaga daya beli. Sehingga industri riil bisa berjalan dengan baik.
Menurutnya, deflasi yang sudah terjadi beberapa kali menjadi salah satu indikator terjadinya penurunan daya beli.
"Salah satu yang penting untuk disampaikan adalah menjaga daya beli supaya semua bisnis bisa berjalan," kata Ilham.
Ia menyampaikan, pemerintah perlu memperkuat daya beli masyarakat. Salah satunya dengan bantuan langsung tunai (BLT). Meskipun tidak berdampak secara langsung.
“Bukan berarti penerima BLT itu beli rumah, tetapi atas manfaat lanjutannya. Sehingga daya beli masyarakat itu harus dikuatkan,” ujar Ilham.
Ia sendiri memperkirakan pada semester II 2024 akan terjadi pertumbuhan penjualan. (tyo)
Editor : Meitika Candra Lantiva