RADAR JOGJA - Sepanjang tahun 2024 ini, DIY mengalami deflasi empat kali. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, deflasi itu terjadi pada Januari sebesar 0,02 persen, Mei 0,08 persen, Juni 0,25 persen, dan Juli 0,03 persen.
Merespons situasi itu, Asisten Sekprov Bidang Perekonomian dan Pembangunan DIY Tri Saktiyana mengatakan, deflasi yang terjadi tidak serta merta menandakan adanya penurunan daya beli dari masyarakat. Secara jumlah beberapa jenis komoditas bisa saja produksinya masih tetap mencukupi.
Pasokan yang banyak itu menyebabkan harga jual komoditas menjadi turun. "Jadi tidak bisa serta merta menyimpulkan daya beli masyarakat turun," katanya kemarin (10/8).
Tri memetakan, deflasi seperti ini ibaratkan seperti tekanan darah. Tidak boleh terlalu rendah dan tidak boleh terlalu tinggi. Untuk inflasi 2024 ditargetkan berada di posisi 2,5 persen plus minus 1 persen.
Secara pola biasanya di kondisi perekonomian normal setelah inflasi tinggi, akan diikuti dengan deflasi menuju ke titik keseimbangan yang baru. "Begitu juga sebaliknya, saat terjadi deflasi biasanya akan kembali inflasi. Intinya tidak boleh terlalu rendah dan tidak boleh terlalu tinggi," tambahnya.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY Ibrahim menyampaikan, situasi deflasi yang terjadi memang benar perlu diwaspadai. Meskipun upaya pengendalian yang terus dilakukan oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) sudah bagus, masih perlu antisipasi-ke depannya.
"Jangan sampai harga komoditas yang terlalu rendah sehingga membuat demotivasi kalangan usaha pertanian. Intinya harus didudukkan dalam porsi yang seimbang," tandasnya. (iza/laz)
Editor : Satria Pradika