Pemilu hingga Ramadan Jadi Faktor Pendorong Pertumbuhan Ekonomi DIY di Triwulan I 2024
Gregorius Bramantyo• Rabu, 15 Mei 2024 | 01:02 WIB
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi DIY.
JOGJA – Pertumbuhan ekonomi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada triwulan I 2024 sebesar 5,02 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy).
Pertumbuhan itu didorong oleh sejumlah faktor.
Bank Indonesia (BI) DIY menyebut, sejumlah faktor pendorong seperti pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) 2024 dan meningkatnya permintaan masyarakat di bulan ramadan.
Selain itu, pergeseran pemberian tunjangan hari raya (THR) bagi ASN/TNI/Polri/Pensiunan juga menjadi faktor pendorong pertumbuhan ekonomi.
Kepala Perwakilan BI DIY Ibrahim mengatakan, dari sisi suplai di triwulan I 2024, mayoritas lapangan usaha utama DIY tumbuh positif.
Seperti industri pengolahan, penyediaan akomodasi dan makan minum, serta konstruksi. Pertumbuhan lapangan usaha industri pengolahan tumbuh 4,71 persen yoy.
“Didorong momen ramadan, sehingga ada peningkatan permintaan pada beberapa produk industri,” katanya, Selasa (14/5/2024).
Sementara lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh sebesar 12,58 persen yoy.
Kepala Badan Pusat Statistik DIY Herum Fajarwati mengatakan, kontribusi DIY terhadap perekonomian di Jawa sebesar 1,57 persen dan nasional 0,91 persen.
Menjadi yang paling rendah dibandingkan provinsi lain karena wilayahnya yang cukup kecil.
Menurutnya, lebih dari setengah perekonomian Indonesia masih di terpusat di pulau Jawa sebesar 57,7 persen.
Dengan pertumbuhan secara triwulan atau quarter-to-quarter (qtq) sebesar 0,89 persen dan yoy 4,84 persen.
"Pertumbuhan ekonomi Jawa menyumbang pertumbuhan ekonomi sebesar 2,86 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional," katanya.
Herum menyebut, sektor akomodasi dan makan minum menjadi penyumbang tertinggi di angka 12,58 persen.
Lima sektor utama yang kontribusinya paling besar adalah industri dengan andil 12,07 persen, pertanian 10,87 persen, akomodasi dan makan minum 10,41 persen, informasi komunikasi 9,8 persen, dan konstruksi 8,69 persen.
Hampir semua sektor perekonomian di DIY tumbuh positif di triwulan I.
Hanya dua dari total 17 sektor yang mengalami tren negatif.
Salah satunya adalah sektor pertanian karena mengalami pergeseran masa tanam dan panen raya di triwulan II pada April.
“Yang tumbuh negatif lain adalah pertambangan dan penggalian karena memang ada beberapa penggalian pasir yang memang di triwulan I tidak beroperasi," ungkapnya. (tyo)