Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pemilu hingga Ramadan Jadi Faktor Pendorong Pertumbuhan Ekonomi DIY di Triwulan I 2024

Gregorius Bramantyo • Rabu, 15 Mei 2024 | 01:02 WIB
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi DIY.
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi DIY.
 
JOGJA – Pertumbuhan ekonomi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada triwulan I 2024 sebesar 5,02 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy). 
 
Pertumbuhan itu didorong oleh sejumlah faktor.
 
Bank Indonesia (BI) DIY menyebut, sejumlah faktor pendorong seperti pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) 2024 dan meningkatnya permintaan masyarakat di bulan ramadan. 
 
Selain itu, pergeseran pemberian tunjangan hari raya (THR) bagi ASN/TNI/Polri/Pensiunan juga menjadi faktor pendorong pertumbuhan ekonomi.
 
Baca Juga: Berlaga di Championship Series Hadapi Madura United, Borneo FC: Kami Sudah Siap!
 
Kepala Perwakilan BI DIY Ibrahim mengatakan, dari sisi suplai di triwulan I 2024, mayoritas lapangan usaha utama DIY tumbuh positif. 
 
Seperti industri pengolahan, penyediaan akomodasi dan makan minum, serta konstruksi. Pertumbuhan lapangan usaha industri pengolahan tumbuh 4,71 persen yoy
 
“Didorong momen ramadan, sehingga ada peningkatan permintaan pada beberapa produk industri,” katanya, Selasa (14/5/2024).
 
Sementara lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh sebesar 12,58 persen yoy
 
Baca Juga: Upaya Mengatasi Permasalahan Sampah, Gubernur DKI Jakarta Berencana Membuat Pulau dari Sampah
 
Didorong oleh kenaikan permintaan hotel saat momen libur pada pelaksanaan kampanye pemilu.
 
“Lapangan usaha ini menjadi sumber pertumbuhan tertinggi di triwulan I 2024,” jelas Ibrahim.
 
Sementara lapangan usaha konstruksi tumbuh 8,62 persen yoy
 
Sejalan dengan akselerasi pembangunan proyek strategis nasional (PSN) tol di DIY dan proyek daerah. 
 
Seperti revitalisasi jalan dan jembatan untuk mengakomodir kedatangan pemudik ke DIY pada masa lebaran.
 
Sementara dari sisi permintaan, seluruh komponen tumbuh positif. 
 
Baca Juga: Cegah Kecelakaan Bus Berulang, Kemenhub Imbau Masyarakat untuk Kritis dan Tidak Menggunakan Bus yang Tak Layak
 
Konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 4,58 persen yoy
 
Didorong peningkatan kebutuhan masyarakat untuk menghadapi bulan puasa dan lebaran.
 
Seperti sembako, pakaian, dan hampers.
 
Menurut Ibrahim, kinerja investasi juga tumbuh positif. 
 
Seperti investasi bangunan dari PSN DIY bagian selatan dan investasi non bangunan dari impor mesin. 
 
Serta realisasi Belanja Modal Aset Tidak Berwujud yang berasal dari APBD. 
 
"Kinerja ekspor dan impor DIY tumbuh baik, selaras dengan kinerja industri yang juga meningkat," ujarnya.
 
Baca Juga: Buntut Kericuhan Usai Konvoi Kelulusan SMA di Jogja, Satu Pelajar Bawa Pil Koplo Diperiksa Satresnarkoba, Enam Pelajar Lain Dipulangkan
 
Kepala Badan Pusat Statistik DIY Herum Fajarwati mengatakan, kontribusi DIY terhadap perekonomian di Jawa sebesar 1,57 persen dan nasional 0,91 persen.
 
Menjadi yang paling rendah dibandingkan provinsi lain karena wilayahnya yang cukup kecil. 
 
Menurutnya, lebih dari setengah perekonomian Indonesia masih di terpusat di pulau Jawa sebesar 57,7 persen. 
 
Dengan pertumbuhan secara triwulan atau quarter-to-quarter (qtq) sebesar 0,89 persen dan yoy 4,84 persen.
 
"Pertumbuhan ekonomi Jawa menyumbang pertumbuhan ekonomi sebesar 2,86 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional," katanya.
 
Herum menyebut, sektor akomodasi dan makan minum menjadi penyumbang tertinggi di angka 12,58 persen. 
 
Baca Juga: Stefano Cugurra Kembali Ingin Hentikan Duo Maut Persib Bandung di Championship Series
 
Lima sektor utama yang kontribusinya paling besar adalah industri dengan andil 12,07 persen, pertanian 10,87 persen, akomodasi dan makan minum 10,41 persen, informasi komunikasi 9,8 persen, dan konstruksi 8,69 persen.
 
Hampir semua sektor perekonomian di DIY tumbuh positif di triwulan I. 
 
Hanya dua dari total 17 sektor yang mengalami tren negatif. 
 
Salah satunya adalah sektor pertanian karena mengalami pergeseran masa tanam dan panen raya di triwulan II pada April.
 
“Yang tumbuh negatif lain adalah pertambangan dan penggalian karena memang ada beberapa penggalian pasir yang memang di triwulan I tidak beroperasi," ungkapnya. (tyo)
Editor : Meitika Candra Lantiva
#2024 #bps #pertumbuhan #BPS DIY #yoy #Sektor utama #DIY #bank indonesia #ramadhan #Pemilu #Triwulan I #Ekonomi