RADAR JOGJA - Hasil kajian Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menunjukkan belanja produk dalam negeri menyumbang perekonomian nasional hingga dua kali. Pemprov DIJ pun sudah meluncurkan program bangga buatan Jogja untuk mendukung peningkatan penggunaan produk dalam negeri (P3DN).
Ketua tim sertifikasi P3DN Nendra mengutip hasil kajian INDEF pada pada September 2022 menunjukkan dalam setiap Rp 1 belanja produk dalam negeri, bisa menyumbang perekonomian nasional sebesar Rp 2,2. Dengan simulasi menggunakan model CGE, lanjut dia, ditemukan dari Rp 72,6 Triliun belanja produk dalam negeri pada 2021, telah memberikan dampak sebesar 0,94 persen terhadap PDB Nasional, atau setara Rp159,52 Triliun.
"Jadi, pada setiap rupiah yang dibelanjakan untuk membeli produk dalam negeri, maka negara akan menerima lebih dari dua kali lipatnya," katanya dalam Bussiness Matching P3DN yang digelar Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIJ Rabu (23/11).
Kemenperin pun melakukan penguatan data suplai produk dalam negeri. Saat ini, melalui situs Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Dalam halaman Referensi di situs TKDN, setiap Pengguna maupun PPK bisa langsung melihat kapasitas produksi dari produk dalam negeri. Pengguna maupun PPK juga bisa secara bebas memilih produk yang paling sesuai dengan kebutuhannya, tentunya harus sesuai dengan peraturan yang berlaku.
"Melalui keterbukaan informasi ini, industri dalam negeri mendapatkan kesempatan dipilih terlebih dahulu dan digunakan dalam pengadaan barang jasa," jelasnya.
Dia menambahkan, sektor industri kreatif menjadi salah satu hal yang diharapkan mampu berkembang di DIJ. Terlebih DIJ memiliki keunggulan dalam hal kreativitas dan budaya, namun dari 16 subsektor ekonomi kreatif tentunya ada yang menjadi prioritas/ciri kas misalnya kuliner, kerajinan, batik, kulit, software, fotografi, desain produk dan lain-lain meskipun kebanyakan sifatnya jasa. "Harapannya tumbuh dan berkembang, dan bisa menjadi raja di negara sendiri," ujarnya.
Kepala Disperindag DIJ Syam Arjayanti dalam laporannya mengatakan, bussiness matching ini tujuannya untuk mengoptimalkan penggunaan produk dalm negeri, di antaranya melalui belanja produk pemprov dan BUMD. Sekaligus mmpertemukan produk barang dan jasa dengan OPD dn konsumen untuk produk dalam negeri. "Juga meningkatkan produksi dan kreativitas pelaku usaha," katanya.
Sementara itu Sekprov DIJ Benny Suharsono pun berharap desain bangga buatan Jogja harus didorong. Menurut dia bangga buatan Jogja menjadi bagian dari gerakan bangga buatan Indonesia. DIJ pun sudah terbukti sukses melaksanakan program penggunaan produk dalam negeri. Terbukti dengan mendapatkan ganjaran insentif dari pemerintah pusat. "Dalam setiap belanja OPD wajib berbelanja produk dalam negeri," pesannya.
Editor : Heru Pratomo