RADAR JOGJA - Bagi sebagian masyarakat tempe koro masih dianggap sebelah mata. Padahal tempe koro bisa menjadi solusi saat tempe kedelai mahal atau bahan bakunya langka. Kreativitas Kelompok Wanita Mandiri (KWM) Berlian Progo di Srandakan, Bantul pun membuat koro juga bisa diolah menjadi kukis, abon hingga sari koro.
Rumah Ibu Asih di Dukuh Babakan, Ponco sari, Srandakan, Bantul jadi lokasi pertemuan rutin KWM Progo Berlian. Bersama-sama para bapak, yang jadi petani koro pedang, mereka kumpul untuk membahas acara panen raya. "Kalau untuk produksi jadwalnya Senin, Rabu dan Jumat," kata salah seorang anggota KWM Berlian Progo Indriyani Fitri kepada Radar Jogja Kamis (19/10).
Meskipun begitu secara gamblang Indri menjelaskan aktivitas KWM Berlian Progo melalui Rumah Produksi Pengolahan Tempe Koro yang merupakan bantuan dari CSR Pertamina Fuel Terminal Rewulu. Mereka baru mulai mengolah koro sejak September 2022 lalu. Baru setahun hasilnya sudah terlihat. "Alhamdulillah sudah rutin produksi, omset per bulan ya bisa Rp 8 juta-Rp 10 juta," tuturnya.
Ya meski baru setahun produksi, tempe koro olahan KWM Berlian Progo sudah memiliki pangsa pasar sendiri. Tak tanggung-tanggung, bahkan jajanan tradisional Jadah Mbah Carik pun sudah mulai memesan tempe koro. Untuk tahap pertama dikirim 300 pcs tempe koro bacem. Request dari Mbah Carik, ukuran tempenya maksimal dua gigitan. Disesuaikan dengan ukuran jadah. "Kalau ukuran normalnya dua kali lipatnya yang untuk Mbah Carik itu," terangnya.
Tak hanya itu, secara rutin mereka juga sudah mulai mensuplai untuk katering di Bantul. Sekali pesanan bisa 100 pcs tempe koro bacem. Untuk harga jualnya? Indri menyebut, untuk tempe mentah satunya dijual Rp 1.000. Sedang yang dalam bentuk tempe bacem dijual Rp 20 ribu isi 10. Sedang dalam bentuk vakum harga jualnya Rp 28 ribu isi 10. "Yang mahal bukan plastiknya, tapi kami harus keringkan dulu supaya kuat hingga 48 jam, yang biasa maksimal 24 jam," jelasnya.
Nilai jual tersebut juga sesuai dengan lamanya pemrosesan koro. Untuk menjadi tempe mentah paling tidak butuh tiga hari. Direbus hingga tiga kali dan enam kali direndam air. Masing-masing perendaman butuh empat jam. Baru kemudian dikupas. Harus diolah benar-benar bersih. "Karena koro ini mengandung sianida, jika pengolahan tidak benar malah bisa bikin pusing," ungkapnya.
Untuk bisa membuat formula yang pas menjadi tempe koro, dibutuhkan waktu hingga hitungan bulan. Semua proses dikerjakan di sela kesibukan ibu-ibu mengurus rumah tangga. Dengan anggota saat ini 13 orang, waktu pengolahan koro disesuaikan dengan waktu senggang mereka.
Tak sekadar diolah jadi tempe, kini KWM Berlian Progo juga berinovasi dengan mengolah koro menjadi berbagai panganan. Yang sudah mulai diproduksi adalah membuat kripik, kukis dan sari koro. Kreativitas olahan koro itupun mulai menyasar kalangan anak muda hingga anak-anak. "Seperti kalau ada acara posyandu, kami juga support dengan membuat sari koro," tuturnya.
Menurut dia, pendampingan dari Pertamina dilakukan sejak awal. Mulai dengan dikenalkan apa itu koro. Bahkan ketika tidak memiliki bahan, diambilkan bahan koro oleh Pertamina dari Ponorogo Jawa Timur. Ketika produksi sudah mulai stabil, Pertamina juga memberikan bibit koro untuk ditanam di Babakan. Kini untuk urusan bahan koro sudah diambil dari petani setempat. "Kami bisa terus produksi, tidak seperti kedelai yang bahannya dari luar dan kadang hilang, kapan saja kami bisa produksi," ungkapnya sambil menyebut tanaman koro bisa dipanen hingga lima kali setahun.
Pendampingan Pertamina juga dilakukan hingga bisa memproduksi tempe koro yang layak dijual. Dia mengenang awalnya pernah gagal dua kali berturut-turut membuat tempe karena takarannya tidak pas. Bahkan hingga 10 kilogram koro. "Sejak 2021 mulai trail and error dan mulai produksi pada September lalu," ungkapnya.
Salah satu hal yang baru diketahui para anggota saat trial and error adalah terkait kebersihan. Saat mencoba bersih dengan mencuci tangan dengan sabun, malah produksi tempe koro gagal. Begitu pula saat akan membuat tempe, anggota dilarang membuat produk olahan lain. Karena bahan minyak juga mengganggu produksi tempe. "Seperti perempuan, membuat tempe koro sepertinya mudah, tapi complicated," ujarnya sambil tersenyum.
Pendampingan yang dilakukan Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Rewulu juga diwujudkan dengan membuatkan rumah produksi. Saat ini masih memakai rumah salah satu anggota. Keberadaan rumah produksi juga menjadi syarat untuk pengurusan BBPOM. Selain itu, KWM Progo Berlian juga terus didampingi dalam pemasaran produknya. Di antaranya dengan diikutkan klinik bisnis. "Di klinik bisnis ini kami ketemu dengan Jadah Mbah Carik," tuturnya.
Editor : Heru Pratomo