RADAR JOGJA - Jogjakarta adalah surganya kuliner. Ada deretan restoran besar yang pasti sudah sangat dikenal para pehobi kuliner. Sebut saja Sushi Tei, XO Suki, The Duck King, Hakata Ikkousha Ramen, Seorae Korean Grill, dan Sushi Hasha.
Adalah Fani Suwito sosok di balik berdirinya restoran-restoran kelas wahid itu. Lahir di Batang, Jawa Tengah, pengusaha kuliner kelahiran 23 Maret 1980 itu tumbuh dewasa di Daerah Istimewa Jogjakarta. Tak heran jika pria yang akrab disaa Ko Fani itu sudah sangat paham dengan jejaring bisnis di wilayah Jogjakarta.
Sejauh ini Ko Fani telah berhasil membangun gurita bisnis kuliner. Baik dengan brand lokal hingga internasional. Tak hanya itu, Ko Fani juga membangun ratusan ruko.
Ide membangun jaringan bisnis properti tidak muncul begitu saja. Ko Fani mengaku, hal itu terinspirasi dari salah seorang pemilik apartemen People’s Park di Singapura.
Hal itu bermula ketika Ko Fani mengantarkan anak pertamanya berobat di National University Hospital (NUH) Singapura pada 2008. Saat itu, Ko Fani beserta istrinya menginap di Apartemen People’s Park sembari menunggu tindakan operasi dan rawat jalan anaknya.
People’s Park merupakan apartemen atau rumah susun yang khusus disewakan bagi para penunggu pasien rumah sakit dari berbagai daerah. Juga warga negara lain.
Saat itulah Ko Fani menyempatkan diri mengobrol dengan pengelola gedung terkait bisnis sewa properti. Dari obrolan itu, Ko Fani lantas merenung. Dia yakin, investasi properti sangat potensial untuk menambah passive income. Ko Fani pun bertekad menjalankan idenya itu meski dengan modal seadanya. Bahkan dari hasil pinjaman bank. Dia juga mengajak rekan-rekannya untuk berinvestasi.
Ruko pertamanya berhasil dibangun dengan tambahan suntikan investasi dari enam rekannya.
Dari satu ruko, Ko Fani mampu menelurkan ruko-ruko lain hingga jumlahnya mencapai ratusan unit. Tak pelak dia pun lantas mendapat julukan sebagai Raja Ruko di Jogjakarta. “Jadi, biasanya aku bikin lima ruko. Nah, yang empat tak puterin uangnya. Yang satu tak simpan. Begitu terus sampai sekarang aku jadi punya banyak ruko," ungkapnya saat ditemui di kediamannya di daerah Demangan Baru.
Bagi Ko Fani, lokasi ruko sangat menentukan untuk pengembangan bisnisnya. Dia memilih kawasan-kawasan strategis seperti Demangan Baru, Jalan Godean, hingga Jalan Kyai Mojo, area Seturan, dan Sagan (Jl. Prof Yohanes).
Setiap ruko yang dibangun Ko Fani memiliki ciri khas tersendiri. Hal itu yang membuat ruko-rukonya mudah dikenali masyarakat. Ciri itu berupa fasad berwarna oranye.
Sebagian besar ruko milik Ko Fani merupakan aset aktif yang sudah disewa oleh brand ternama. Seperti PHD, Hokben Kitchen, Sushi Tei, Hakata Ikkousha, Cold and Brew, Kopi 28, Klinik Gigi Joy Dental, hingga klinik kecantikan seperti Super Glow dan Beauty Lux.
Malang melintang di dunia properti tak membuat Ko Fani cepat berpuas diri dengan ratusan rukonya. Setelah ruko, dia memberanikan diri menambah aset berupa hotel, apartemen, dan restoran.
Properti memang menjadi fokus bisnis si Raja Ruko Jogjakarta itu. Kendati demikian, bisnis kuliner juga menjadi bagian tak terpisahkan dari sosok pria berkaca mata itu.
Roda bisnis kulinernya dimulai sejak 2011. Ko Fani memulai usaha dengan membuka Restoran XO Suki di Plaza Ambarrukmo. Tiga tahun berselang, dia membuka Sushi Tei dan Pepper Lunch.
Seiring berganti tahun, jejaring bisnis kulinernya terus berkembang sampai sekarang. Ko Fani merambah jejaring kuliner internasional dengan membuka Seorae Korean Grill, Patbingsoo, Hakata Ikkousha, dan beberapa lainnya.
Ko Fani sendiri telah memiliki brand kuliner yang sangat familier. Yakni Zango dan Sumo Sushi Bar. Kedua brand restoran itu dibuka pada 2012 dan 2017. Dari situ brand kuliner yang dipegangnya terus menggurita. Di antaranya, Shabu Ghin, Sinergi Co-Working Space, Bale Nyoenya, Portable / Cubic Bar, Cam On Vietnamnese, dan Bakmi Nikmat Rasa, hingga Sushi Hasha. Brand terakhir itu merupakan Japanese flagship restaurant di Jogjakarta.
Itulah perjalanan si Raja Ruko Jogjakarta, yang juga pemilik banyak brand kuliner besar, dalam membangun gurita bisnis propertinya.(ila)
Editor : Reren Indranila