Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kemitraan Dorong Geliat Ekonomi di Daerah Sawit

Reren Indranila • Sabtu, 26 Agustus 2023 | 13:20 WIB

EKONOMI: Program plasma yang digulirkan oleh PT AMP Plantation, Wilmar Group terbukti mampu menciptakan dampak pengganda. (ISTIMEWA)
EKONOMI: Program plasma yang digulirkan oleh PT AMP Plantation, Wilmar Group terbukti mampu menciptakan dampak pengganda. (ISTIMEWA)

RADAR JOGJA – Program plasma yang digulirkan oleh PT AMP Plantation, Wilmar Group terbukti mampu menciptakan dampak pengganda (multiplier-effect) dalam meningkatkantaraf hidup petani kelapa sawit di Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar).

Maharsal Indra, bendahara Koperasi Perkebunan Agro WiraMasang mengapresiasi komitmen perusahaan dalam merealisasikan program plasma kebun sawit yang dilakukan sejak 1997 itu. Sebab, program tersebut mampu meningkatkan taraf hidup petani plasma secara signifikan. Sawit juga telahmendorong perputaran uang di daerah menjadi besar. “Dulu orang punya motorpun tidak. Sekarang tiap orang punyamobil, motor, bisa membeli lahan, mudah dapat pinjaman bank, tiap hari ada saja yang umroh dan anak-anak banyakyang kuliah,” ujar dia saat di temui beberapa waktu lalu.

Tingginya pendapatan dari sawit membuat komoditas itu menjadi salah satu penopang utama perekonomian di daerahtersebut. Itu juga menyebabkan banyak petani tanaman pangan beralih ke sawit dan mendorong harga lahan melonjaktajam. Mereka juga percaya harga komoditas emas hijautersebut tidak akan terjun bebas, sehingga tetap akan menjadiprimadona. “Dulu orang disini tidak mau. Sekarang Sawit jadirebutan,” ungkap Indra.

Anggota koperasi yang berjumlah 2.000 orang tersebut telah menerima hak atas kebun plasma seluas  810 hektare (ha). Dengan menerapkan pengelolaan kebun yang baik, mereka mendapatkan yield tandan buah segar (TBS) hingga 1,5 ton per ha per bulan atau hampir setara dengan kebun milik perusahaan. Hal itu juga didukung oleh kondisi lahan yang subur.

Senada, Rabuman, sekretaris Koperasi Tompek Tapian Kandih menjelaskan, pihaknya juga telah merasakan dampakpositif program plasma. Pada 1980-1990-an, Raboman  masihmenjadi karyawan perusahaan HPH (hak pengusahaan hutan). Perekonomiannya mulai meningkat sejak awal 2000 setelah menjadi petani plasma. Selain itu, adanya perusahaan sawityang beroperasi di daerah itu juga mampu menyerap tenagakerja dari masyarakat setempat. “Saat ini 70 persen karyawan perusahaan dari masyakarakat lokal,” tutur Rabuman.   

Koperasi tersebut saat ini mengelola lahan plasma seluas 512 ha dan beranggotakan 256 petani sawit. Pihaknya telah melaksanakan replanting (peremajaan) dengan memanfaatkandana BPDPKS (Badan Pengelola Dana Perkebunan KelapaSawit) yang mencapai lebih dari Rp 8 miliar. Mereka sempatmecapai puncak produksi TBS sebanyak 2-2,5 ton per ha per bulan. Namun saat ini produksi agak berkurang karena sedang masa replanting.

Dia berharap kemitraan tersebut dapat terus berlangsungkarena petani telah menikmati manfaatnya. Tidak hanyadalam bentuk lahan plasma, tetapi juga transfer pengetahuanuntuk meningkatkan produktivitas.

Wiyono, manager plasma PT AMP Plantation menambahkan, pihaknya telah merealisasikan plasma kurang lebih sebesar 35 persen sejak 1992 sesuai arahan pemerintah. Perusahaan jugamemberikan pendampingan dalam penerapan pengeloaankebun yang baik, seperti pemupukan, penggunaan bibitunggul, pencegahan penyakit, dan penyediaan infrastruktur di kebun. “Apa yang kami sampaikan ke petani merupakanbentuk tanggung jawab dalam membantu petani sejatera,” ujar Wiyono. (ila)

 

Editor : Reren Indranila
#plasma #Pertanian #Wilmar