Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Hanya Butuh 60 Menit, Alat Hasil Inovasi Dosen Untidar Mampu Konversi Ratusan Kilogram Sampah Daun Jadi Gas

Naila Nihayah • Kamis, 5 Maret 2026 | 22:00 WIB

Dosen Untidar membuat sebuah mesin reaktor untuk mengubah sampah menjadi gas dan listrik di TPS3R Rusunawa Potrobangsan.  Inovasi Dosen Untidar Sulap Sampah Daun Jadi Gas dan Listrik lewat Teknologi G
Dosen Untidar membuat sebuah mesin reaktor untuk mengubah sampah menjadi gas dan listrik di TPS3R Rusunawa Potrobangsan. Inovasi Dosen Untidar Sulap Sampah Daun Jadi Gas dan Listrik lewat Teknologi G


Dosen Fakultas Teknik Universitas Tidar (Untidar) mengembangkan sebuah teknologi bernama Gasification on Demand (Gasmod) yang mampu mengubah sampah hijau perkotaan seperti daun dan ranting menjadi gas energi. 

Inovasi ini dikembangkan sebagai solusi pengelolaan sampah ramah lingkungan sekaligus sumber energi alternatif bagi masyarakat.

Sampah dedaunan yang sebelumnya dibuang ke TPA kini dapat dimanfaatkan kembali melalui proses gasifikasi. Teknologi tersebut bekerja dengan memanfaatkan sampah organik kering seperti daun, ranting, dan kayu kecil.

Baca Juga: Tol Prambanan-Purwomartani Dibuka Fungsional Mulai 16 Maret, Hanya Boleh Dilintasi Mobil Golongan 1 Nonbus

Alat tersebut, kata dia, bisa digunakan sebagai solusi untuk memanfaatkan atau merubah sampah menjadi energi. "Sampah yang kita gunakan berasal dari dedaunan dan ranting yang selama ini dari pemkot dibuang ke TPSA," ujar Dosen Fakultas Teknik Untidar, Arif Rahman, Kamis (5/3).

Melalui teknologi Gasmod, sampah hijau yang sebelumnya tidak bernilai kini dapat dikonversi menjadi gas yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan energi. Gas yang dihasilkan dapat digunakan untuk kebutuhan memasak maupun untuk menghasilkan energi listrik.

Pada tahap awal pengembangannya, listrik dari hasil konversi sampah tersebut dimanfaatkan untuk menyuplai kebutuhan energi di fasilitas pengolahan sampah, seperti TPS3R. "Energi yang dihasilkan ada dalam bentuk gas yang bisa dimanfaatkan untuk memasak ataupun untuk menghasilkan listrik," jelasnya.

Baca Juga: Bekas Jurang yang Diuruk, Perumahan di Sedayu Alami Pergerakan Tanah

Proses perubahan sampah daun menjadi gas sebenarnya cukup sederhana, meskipun membutuhkan beberapa tahapan. Tahap pertama adalah pengeringan bahan baku.

Daun atau ranting yang masuk harus dikeringkan terlebih dahulu hingga kadar airnya tidak lebih dari 20 persen. Proses ini biasanya memerlukan waktu antara satu hingga tiga hari.

Setelah kering, sampah daun kemudian dicacah hingga berukuran kecil, sekitar satu hingga dua sentimeter, agar lebih mudah diproses di dalam reaktor. Material yang telah dicacah kemudian dimasukkan ke dalam reaktor gasifikasi, tempat terjadinya proses konversi termokimia antara bahan bakar dan udara.

Baca Juga: Cari Dua Korban Lahar Hujan di Kabupaten Magelang, Hari Ketiga Operasi Tim SAR Kerahkan Alat Berat

Di dalam reaktor, lanjut dia, terjadi proses pembakaran parsial, yakni pembakaran dengan jumlah udara yang lebih sedikit dibandingkan bahan bakar. Proses tersebut menghasilkan gas karbon monoksida yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi.

Lantaran jumlah udaranya lebih sedikit, gas yang dihasilkan bukan karbon dioksida, tetapi karbon monoksida. "Gas ini kemudian dimurnikan dan disimpan dalam wadah bertekanan sebelum dimanfaatkan," bebernya.

Meski tahap pengeringan membutuhkan waktu beberapa hari, proses konversi di dalam reaktor berlangsung cukup cepat. "Setelah masuk reaktor, hanya butuh waktu sekitar 60 menit untuk menghasilkan gas," sambungnya.

Baca Juga: Pemkab Bantul Dorong Potensi LokalJadi Koperasi Desa Merah Putih

Dalam pengembangan terbaru, tim peneliti Untidar telah membangun reaktor dengan kapasitas pengolahan hingga 60 kilogram bahan baku dalam satu siklus.

Jika dioperasikan selama lima hingga enam jam sehari, alat tersebut mampu mengolah sekitar 300 hingga 400 kilogram sampah daun setiap hari.


Dari jumlah tersebut, produksi gas yang dihasilkan relatif sebanding dengan berat bahan bakunya. "Dari 1 kilogram sampah kering itu setidaknya akan menghasilkan sekitar 1 kilogram gas," paparnya.

Baca Juga: Hujan Deras di Saptosari Sebabkan Tiang Listrik Roboh, Akses JJLS Sempat Terganggu

Saat ini, kata Arif, teknologi tersebut masih dalam tahap uji coba dan pengabdian kepada masyarakat, sehingga belum dikomersialisasikan. Masyarakat yang membutuhkan gas dari hasil gasifikasi bahkan diperbolehkan membawa tabung sendiri untuk diisi secara gratis sebagai bagian dari program pengabdian.

Arif menuturkan, pengembangan teknologi Gasmod sebenarnya telah dimulai sejak tahun 2017. Namun saat itu masih berupa penelitian dalam skala kecil.

Prototipe berkapasitas kecil baru dikembangkan sekitar dua tahun lalu, sebelum akhirnya diperluas ke skala yang lebih besar pada tahun ini.

Baca Juga: Pesantren Kilat di MI Nurrohmah Bina Insani Bantul Asah Kemampuan Berbicara Siswa di Depan Umum

Kepala Bidang Pengelolaan dan Penanganan Persampahan, DLH Kota Magelang Widodo menambahkan, teknologi semacam ini sangat dibutuhkan untuk membantu menyelesaikan persoalan sampah perkotaan.

"Sampah itu mau diapakan? Apakah hanya ditumpuk di TPA atau bisa dikelola dengan teknologi dan memberi manfaat," ujarnya.(pra)

Editor : Heru Pratomo
#Magelang #Gasmond #Untidar #Arif Rahman #dosen #Sampah Daun Kering #Fakultas Teknik #pemkot #tpa #gas