MUNGKID – Seorang remaja asal Windusari, Muhammad Khafidzul Akrom tak pernah membayangkan bisa mengenyam pendidikan di bangku SMA. Anak buruh tani itu sempat pasrah hanya dengan menamatkan pendidikan di tingkat SMP, lantaran kondisi ekonomi keluarga tak memungkinkan.
Namun, kabar tentang berdirinya Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) Magelang mengubah jalan hidupnya. "Dulu saya kira tidak akan lanjut, hanya sampai MTs. Alhamdulillah ada kabar pembukaan sekolah rakyat. Saya langsung daftar," ucap siswa yang bercita-cita menjadi dokter itu, Selasa malam (9/9).
Dia merasa mendapatkan kesempatan kedua untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Kesempatan itu tentu dimanfaatkan dengan baik. Bahkan, ia kini mulai beradaptasi dengan teman-teman serta lingkungan sekolah.
Baca Juga: Mensos Targetkan 65 Sekolah Rakyat Rampung Akhir September 2025, Tersebar di Seluruh Indonesia
Saban hari, Akrom selalu bangun saat azan Subuh berkumandang. Lalu, salat dan dilanjutkan dengan berlari kecil mengitari kompleks asrama. Namun terkadang, dia harus piket bebersih asrama. Setelah itu, barulah mandi, sarapan, dan bersiap mengikuti kegiatan belajar hingga sore hari.
Akrom bukan satu-satunya yang merasakan keajaiban kesempatan itu. Anggi, siswa lain, juga mengaku sangat terbantu dengan adanya sekolah rakyat. "Bapak kuli bangunan, kalau ibu seorang ibu rumah tangga. Saya ingin jadi guru matematika. Senang pol dengan adanya SR ini," lontarnya antusias.
Kisah Akrom dan Anggi hanyalah dua dari sekian wajah penuh semangat di sekolah yang berdiri sebagai wujud gagasan Presiden Prabowo Subianto ini. SRMA 43 Magelang menampung anak-anak dari keluarga sederhana, bahkan nyaris tak mampu melanjutkan pendidikan. Dari anak buruh tani, kuli bangunan, hingga pekerja serabutan, semuanya kini mendapat ruang untuk belajar dan bermimpi kembali.
Baca Juga: Candra Akbar Ishmata Maju Kandidat Ketua AMPI DIY, Klaim Dapat Restu Ketua DPD Golkar
Kepala SRMA 43 Magelang Sri Redjeki tidak menampik, kesan pertamanya saat mendampingi para siswa adalah rasa gemas. "Awalnya gemas sekali. Disuruh duduk, tidak bisa anteng, ngobrol sendiri, heboh sendiri. Tapi hari demi hari saya lihat ada perubahan. Itu membuat kami bangga," ujarnya.
Bagi dirinya, mendidik anak-anak dari keluarga sederhana di sekolah rakyat bukan sekadar pekerjaan, melainkan sebuah amanah. "Ini bukan beban, insyaallah ini kunci surga buat kami semua," ungkapnya dengan mata berbinar.
Sekolah rakyat kini telah dijalankan di 100 titik di seluruh Indonesia. Menteri Sosial RI Syaifullah Yusuf menegaskan, program ini dirancang untuk memberi akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Rencananya, September ini akan ditambah 65 titik yang dapat menampung lebih dari 15 ribu siswa dan ditargetkan beroperasi awal Oktober.
Baca Juga: Prediksi Hungaria vs Portugal Kualifikasi Piala Dunia Grup F Rabu 10 September Kick Off 01.45, H2H dan Susunan Pemain, Siapa Pemenangnya?
Dia bangga melihat perubahan para siswa. "Awalnya homesick, tapi makin lama bisa beradaptasi. Mereka dilatih disiplin, tahu kapan belajar, kapan bersih-bersih, kapan beribadah. Semua ada kurikulumnya. Yang penting sekarang konsisten menjalankan," kata pria yang akrab disapa Gus Ipul itu.
Menurut Gus Ipul, kolaborasi pemerintah daerah, TNI-Polri, guru, wali asuh, hingga wali asrama menjadi kunci keberhasilan program ini. Dengan pemenuhan gizi, pembinaan karakter, serta kedisiplinan yang terjaga, ia berharap lulusan sekolah rakyat tumbuh menjadi generasi tangguh: pintar, berkarakter, dan terampil. (aya)