SLEMAN - Inovasi pengolahan limbah kembali muncul dari kalangan mahasiswa. Empat mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) berhasil mengolah kulit singkong menjadi karbon yang efektif menyerap logam berat.
Penelitian ini merespons persoalan lingkungan akibat limbah kromium heksavalen yang banyak dihasilkan industri penyamakan kulit, termasuk di wilayah Jogjakarta. Limbah itu dikenal toksik dan berbahaya bagi lingkungan maupun kesehatan manusia.
Ketua tim riset Ankita Cahya Muti menjelaskan, kulit singkong dipilih karena melimpah namun belum termanfaatkan secara maksimal. "Kulit singkong kaya kandungan karbon yang bisa diolah menjadi karbon aktif, bahan yang efektif menyerap logam berat," ujar mahasiswa Prodi Kimia UNY angkatan 2022 itu Selasa (1/7).
Tim riset yang menamakan diri Adsorben Singkong ini, terdiri Ankita Cahya Muti (Kimia 2022), Oktavia Kusuma (Matematika 2022), Puput Intan Pratiwi (Pendidikan Matematika 2022), dan Khansa Amalia Rahmah (Biologi 2023). Penelitian mereka diusung dalam ajang Pekan Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Eksakta (PKM-RE).
Secara prinsip, Ankita menuturkan inovasi ini diharapkan mendorong pemanfaatan limbah organik sebagai solusi lingkungan yang berkelanjutan. "Sekaligus memberi nilai tambah pada limbah pertanian yang selama ini terabaikan," tuturnya.
Proses penelitian dimulai dengan mengarbonisasi kulit singkong dalam suhu tinggi untuk menghasilkan karbon aktif. Selanjutnya karbon diaktivasi dengan asam klorida dan dikombinasikan dengan nanopartikel magnetit melalui proses kopresipitasi. Hasil akhirnya, komposit yang mampu menyerap ion Cr6+ secara signifikan dari larutan limbah.
Uji laboratorium menunjukkan daya serap paling optimal terjadi pada rasio komposit magnetit 10:0,6 setelah proses selama 90 menit. Karakterisasi material dilakukan menggunakan berbagai instrumen seperti XRD, FTIR, SEM-EDX, dan AAS.
Sementara itu, dosen pembimbing tim Prof Dyah Purwaningsih menyebut, pendekatan ini tidak hanya mengangkat limbah pertanian menjadi material fungsional, tetapi juga menawarkan solusi nyata terhadap pencemaran industri. "Secara umum, potensi pengembangan dalam skala industri pun terbuka lebar," paparnya. (laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita