Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dikukuhkan Jadi Guru Besar FKG UGM, Ahmad Syaify dan Rosa Amalia Gelar Tasyakuran dengan Pameran Lukisan dan Puisi

Adib Lazwar Irkhami • Rabu, 25 Juni 2025 | 05:02 WIB

 

Pameran lukisan dan puisi dalam tasyakuran pengukuhan Guru Besar FKG UGM Ahmad Syaify dan Rosa Amalia, Selasa (24/6).
Pameran lukisan dan puisi dalam tasyakuran pengukuhan Guru Besar FKG UGM Ahmad Syaify dan Rosa Amalia, Selasa (24/6).
 

JOGJA - Dua dosen Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UGM dikukuhkan menjadi guru besar secara bersamaan, Selasa (24/6). Mereka adalah Prof Dr drg Ahmad Syaify Sp.Perio, Subsp.RPID (K), FISID dikukuhkan sebagai guru besar bidang ilmu medisin periodontal dan Prof Dr drg Rosa Amalia M.Kes sebagai guru besar bidang epidemiologi dan biostatistika.

Dalam upacara pengukuhan di Balai Senat UGM, Ahmad Syaify menyampaikan pidato berjudul Periodontitis Diabetika: Kompleksitas Penyakit dan Tantangan Multidispliner. Sementara  Rosa Amalia menyampaikan pidato berjudul Menjelajah Angka, Membaca Masa Depan: Peran Epidemiologi dan Biostatistika di Era Kedokteran Gigi Presisi.

Syaify melalui pidatonya menyampaikan soal functional medicine sebagai pendekatan berbasis ilmu biomedis mutakhir menyatukan temuan-temuan dalam imunologi, metabolisme, nutrigenomik, mikrobiota, dan endokrinologi ke dalam kerangka praktik klinis yang lebih personal, preventif, dan integratif. Melalui pendekatan ini, para klinisi dituntut tidak hanya fokus hanya pada “tempat sakitnya”, atau berhenti di pembersihan karang gigi atau pemberian antibiotik sistemik, namun diajak untuk menggali lebih dalam apa dan bagaimana pola makan pasien selama ini.

 Pengalamannya selama dua dekade menekuni bidang periodonsia, Syaify semakin menyadari ilmu kedokteran gigi bukan hanya soal gigi dan gusi. Ia merupakan jendela yang memperlihatkan lanskap luas kesehatan manusia, mulai dari pola makan, gaya hidup, imunitas, hingga hubungan psiko-sosial.

"Peran dokter gigi di tengah era penyakit kronis seperti diabetes saat ini tidak bisa lagi dilakukan hanya dengan kacamata spesialis. Namun harus mulai berpikir sebagai dokter untuk manusia secara utuh, bukan sekadar dokter gigi,” tambahnya.

Sementara Rosa mengungkapkan transformasi menuju era Predictive, Preventive, Personalized, and Participatory (P4) dentistry memperlihatkan pengelolaan kesehatan masa depan haruslah berbasis data ilmiah dan berpusat pada individu. Epidemiologi dan biostatistika, memainkan peran sentral dalam membaca pola kesehatan, membangun model prediktif, serta memastikan intervensi yang tepat sasaran dan adil bagi seluruh populasi.

Melalui pendekatan ini, katanya, masyarakat akan memperoleh manfaat yang nyata yaitu risiko penyakit gigi dapat diketahui lebih awal, pencegahan bisa dilakukan dengan cara yang sesuai kebutuhan masingmasing individu, dan pasien menjadi mitra aktif dalam menjaga kesehatannya.

Penerapan ilmu ini tidak hanya meningkatkan kualitas layanan, tetapi juga memperkuat kebijakan kesehatan yang berpihak pada keadilan, keberlanjutan, dan keselamatan publik. "Pengembangan kapasitas di bidang epidemiologi dan biostatistika bukan hanya penting untuk dunia akademik, tetapi juga menjadi aset strategis untuk kesehatan masyarakat Indonesia," tandasnya.

 

Yang menarik, usai upacara pengukuhan kedua profesor ini mengadakan tasyakuran dengan cara menggelar pameran lukisan dan puisi. Sedikitnya ada 25 lukisan karya Ahmad Syaify, sementara puisi-puisi itu ciptaaan Rosa Amalia. Pameran seni ini dihelat di Atrium Gedung OECF, Gedung FKG UGM.

  Pameran lukisan dan puisi itu seolah saling melengkapi. Dalam pameran itu, lukisan dan puisi yang satu tema atau temanya berdekatan, dipajang secara berdampingan.

"Puisi-puisi Bu Rosa ini banyak terinspirasi lukisan saya. Ada pula yang kebalikannya, lukisan yang saya buat merefleksikan puisi yang sudah lebih dulu dibuat oleh sahabat saya ini," ujar Syaify saat memberi sambutan pengantar dalam pameran ini.

Soal aliran apa yang dianut dalam melukis, mantan wartawan berbagai media lokal maupun nasional ini mengaku secara terus terang tidak bisa menjawabnya. "Saya mengalir saja ketika menggores di kanvas dan mencampur warna," ungkapnya.

Bapak dua anak dan satu cucu ini mengatakan, ia bukanlah pelukis beneran, apalagi yang akademisi. "Saya melukis karena saya menyukainya. Satu hal yang cukup konsisten dalam melukis adalah saya lebih menyukai teknik teknik paletting dan cat aklirik," ungkapnya.

Terkait pertanyaan mengapa dokter gigi juga melukis, ia mengatakan jawaban standarnya  karena dunia kedokteran gigi sangat kental sentuhan seninya. "Masih segar dalam ingatan, ketika awal menjadi mahasiswa kedokteran gigi dulu, dosen-dosen kami selalu menekankan bahwa kedokteran gigi itu adalah perpaduan yang erat ilmu pengetahuan  dan seni," tambah dekan FKG UGM periode 2021-2021 dan ketua PDGI (Persatuan Dokter Gigi Indonesia) Sleman  periode 2015-2022 ini. (laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Ahmad Syaify #pameran lukisan #UGM #biomedis #fkg #Kedokteran Gigi #ilmu #guru besar #Kesehatan #fakultas kedokteran gigi #dosen #Epidemiologi #puisi #guru besar bidang epidemiologi dan biostatistika #Rosa Amalia