Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Limbah Jeruk Lawan Limbah Batik, Inovasi Tim Mahasiswa UNY Hadirkan Solusi Lingkungan Bioadsorben Organik

Fahmi Fahriza • Selasa, 17 Juni 2025 | 17:10 WIB
Foto tim PKM UNY melakukan inovasi dengan membuat Bioadsorben organik dari limbah kulit jeruk, sebagai solusi penyerapan limbah batik
Foto tim PKM UNY melakukan inovasi dengan membuat Bioadsorben organik dari limbah kulit jeruk, sebagai solusi penyerapan limbah batik

SLEMAN - Permasalahan limbah sintetis dari industri batik dan limbah organik dari sektor kuliner, menjadi perhatian serius dan kompleks di wilayah DIY. Menanggapi tantangan ini, lima mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menciptakan inovasi ramah lingkungan berupa bioadsorben dari limbah kulit jeruk peras atau Citrus sinensis, sebagai solusi penyerapan limbah pewarna batik.

Inovasi ini lahir melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Riset Eksakta 2024. Dengan tim peneliti yang terdiri dari Diva Aprillia Putri, Jalu Bahtiar Baharudin, Enina Estheria, Pramudya Ika Putri (Biologi 2021), dan Nabilla Afrialneta Irawan (Kimia 2022) dari Fakultas MIPA UNY.

Ketua tim riset Jalu menyoroti, setidaknya ada dua permasalahan lingkungan utama di Jogja. Pertama tingginya volume limbah cair industri batik yang tidak melalui proses pengolahan, dan menumpuknya limbah kulit jeruk dari sektor kuliner. 

 Baca Juga: Duh! Jaring Sungai Jebol, Sampah di Kali Buntung Kota Jogja Memprihatinkan

"Kedua, jenis limbah ini selama ini belum dimanfaatkan secara optimal dan bahkan menjadi sumber pencemaran," katanya pada Radar Jogja, Senin (16/6).

Jalu mengungkapkan, Jogja sebagai kota batik secara garis besar menghasilkan limbah cair dengan pewarna sintetis, yang langsung dibuang ke lingkungan. Di sisi lain, limbah kulit jeruk dari aktivitas kuliner juga tidak termanfaatkan, padahal limbah tersebut sulit terurai karena pH-nya sangat rendah.

 Baca Juga: Dua Pemain PSS Sleman dan Satu Pemain PSIM Jogja Mendapatkan Panggilan TC Timnas Indonesia U23, Panggilan Pertama Dominicus Dion untuk Garuda Muda

Melalui studi pustaka yang dilakukan, Jalu dan tim menemukan fakta bahwa kulit jeruk mengandung pektin. Yakni senyawa alami yang memiliki gugus karboksil dan hidroksil, yang mampu mengikat zat pewarna dalam limbah. 

"Pektin kemudian diekstraksi dan diuji efektivitasnya sebagai bioadsorben dalam menyerap limbah batik," paparnya.

Lebih lanjut, proses penelitian dilakukan secara bertahap, termasuk melakukan uji determinasi di Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk memastikan jenis kulit jeruk yang digunakan. 

 Baca Juga: Pedagang Ancam Satpol PP saat Sosialisasi di Pasar Muntilan Berakhir Dibui

Selain itu, pengujian penyerapan zat warna juga dilakukan dengan spektrofotometri UV-Vis di UNY, diikuti pengujian FTIR untuk identifikasi gugus fungsi pektin. Struktur mikroskopis bioadsorben juga diamati menggunakan SEM-EDX di UII, dan kandungan logam berat dalam limbah batik diuji dengan AAS.

 

"Data uji menunjukkan limbah batik dari Kulon Progo punya tingkat pencemaran tertinggi dibandingkan wilayah Sleman dan Bantul," ulasnya.

 

Oleh karena itu, limbah dari wilayah tersebut dijadikan fokus utama dalam uji efektivitas bioadsorben. Uji lanjutan sendiri dilakukan dengan model isoterm Langmuir dan Freundlich untuk mengukur daya serap optimal.

 

Sementara itu, Diva menambahkan, dari hasil riset ini menunjukkan bahwa pektin dari limbah kulit jeruk efektif menyerap zat pewarna sintetis dalam limbah batik, menawarkan solusi berbasis sains yang aplikatif dan berkelanjutan. 

 Baca Juga: Duh! Jaring Sungai Jebol, Sampah di Kali Buntung Kota Jogja Memprihatinkan

"Kami ingin menunjukkan solusi lingkungan tidak harus mahal atau kompleks. Limbah yang selama ini dianggap tidak berguna bisa jadi kunci mengatasi pencemaran," beberapa.

 

Ke depannya, Diva dan tim berharap inovasi ini bisa terus dikembangkan dan diterapkan secara luas di industri batik serta sektor lain yang memproduksi limbah cair berbahaya. 

 

"Selain mengurangi pencemaran, inovasi ini juga memberi nilai tambah pada limbah organik yang selama ini terbuang percuma," pungkasnya. (iza)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#universitas negeri yogyakarta #ramah lingkungan #limbah organik #Citrus Sinensis #limbah kulit jeruk #Permasalahan #limbah #inovasi #pewarna batik #Jeruk peras #UNY #Penyerapan #industri batik #DIY #sektor kuliner #limbah sintetis