Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Rektor UGM Temui Para Mahasiswa Aksi Yang Bangun Tenda di Kawasan Balairung, Dukung Aspirasi dan Tegaskan Komitmen Inklusivitas Kampus

Fahmi Fahriza • Kamis, 22 Mei 2025 | 02:53 WIB

 

Jajaran rektorat UGM menemui para mahasiswa aksi yang membangun tenda di kawasan Balairung UGM sejak Rabu (14/5/2025).
Jajaran rektorat UGM menemui para mahasiswa aksi yang membangun tenda di kawasan Balairung UGM sejak Rabu (14/5/2025).
 
JOGJA - Aliansi mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang melakukan aksi dan membangun tenda di kawasan Balairung UGM sejak Rabu (14/5/2025), akhirnya ditemui oleh jajaran rektorat kampus.
 
Rektor UGM Prof Ova Emilia menyatakan, bahwa pihak universitas menyambut baik dan mendukung aspirasi yang disampaikan oleh mahasiswa, khususnya yang tergabung dalam aliansi mahasiswa UGM tersebut.
 
Ova menegaskan, UGM sebagai institusi pendidikan tinggi nasional senantiasa membuka ruang bagi mahasiswa untuk menyalurkan aspirasi, menjaga sikap kritis, dan berpartisipasi dalam berbagai isu kebangsaan.
 
Baca Juga: Ribuan Pekerja Berpotensi Dirumahkan Sementara Pasca-Kebakaran PT MTG, Ini Rekomendasi MPBI DIY
 
"Kami memandang aksi ini wujud kepedulian mahasiswa pada dinamika sosial dan kebijakan nasional. Ini menunjukkan semangat kritis yang penting dalam kehidupan akademik dan demokrasi," katanya, Rabu (21/5/2025).
 
Menanggapi sejumlah tuntutan yang dilayangkan, Ova menyoroti beberapa hal strategis.
 
Salah satunya terkait mosi tidak percaya kepada institusi negara, ini dinilai kurang tepat dalam konteks peran kampus sebagai lembaga pendidikan.
 
Baca Juga: Jogja Printing Expo 2025 Wujud Nyata Untuk Mambawa Industri Percetakan Lebih Dekat Dengan Para Pelaku Usaha Industri Percetakan
 
Namun, UGM tetap mendorong pemerintahan yang jujur, bersih, dan berpihak kepada kepentingan masyarakat.
 
Terkait isu militerisme di ruang sipil, Ova menyebut bahwa UGM meninjau persoalan tersebut dalam bingkai kebebasan akademik dan otonomi keilmuan.
 
Pihak kampus saat ini tengah menyusun naskah akademik yang merangkum posisi UGM terhadap kebebasan mimbar dan pengawasan terhadap potensi penyalahgunaan kekuasaan.
 
Baca Juga: Syncore Indonesia melalui Meravi.id Luncurkan Program Sinkronisasi Koperasi, UMKM, dan BUMDES: Membangkitkan Ekonomi Nasional dari Desa
 
"Partisipasi mahasiswa dan masyarakat sipil sangat penting dalam menjaga demokrasi. UGM juga mengikuti proses judicial review UU TNI di Mahkamah Konstitusi dan berharap hasilnya sesuai semangat reformasi," ungkapnya.
 
Selanjutnya, menyoal relokasi anggaran pendidikan, Ova menegaskan UGM menolak segala kebijakan yang mengancam kualitas pendidikan tinggi.
 
Ia mengingatkan bahwa amanat konstitusi mewajibkan alokasi 20 persen anggaran negara untuk sektor pendidikan.
 
Baca Juga: Makanan Berlebih dari Hotel hingga Kampus di Kota Jogja Disalurkan ke Masyarakat Membutuhkan
 
"UGM hingga kini tidak menaikkan UKT dan tetap menerapkan prinsip keadilan dan kesetaraan dalam pembiayaan. Kami juga terus memperluas akses bantuan pendidikan, termasuk pinjaman laptop, beasiswa, dan transportasi kampus," jelasnya.
 
Selain itu, terkait transparansi dana pendidikan, Ova menyebut bahwa laporan keuangan UGM selalu disampaikan ke Majelis Wali Amanat dan dapat diakses publik melalui situs resmi universitas.
 
Di samping itu, UGM juga menaruh perhatian terhadap inklusivitas dan akses pendidikan bagi kelompok rentan.
 
Baca Juga: Kematiannya di Kebuman Janggal, Makam Kepala SDN Bringin 1 Magelang Dibongkar Polisi
 
Program afirmasi, jalur PBU, serta penguatan Unit Layanan Disabilitas (ULD) menjadi bentuk nyata komitmen tersebut.
 
"Saat ini kami punya 48 mahasiswa penyandang disabilitas dan kami terus meningkatkan fasilitas agar kampus semakin ramah inklusi," ujarnya.
 
Lebih lanjut, menanggapi tuntutan penanganan kekerasan seksual, Ova menegaskan bahwa UGM punya komitmen kuat dalam menciptakan lingkungan yang aman dan bebas dari kekerasan.
 
Baca Juga: Bruno Fernandes: Memenangkan Europa League Akan Mencerahkan Masa Depan Manchester United
 
Sejak 2022, Satgas PPKS telah berfungsi aktif mendeteksi dan menangani kasus yang terjadi di lingkungan kampus.
 
"Terima kasih atas partisipasi dan sikap kritis mahasiswa, di tengah maraknya disinformasi, peran mahasiswa sangat vital dalam menjaga ruang publik yang sehat," tandasnya.
 
Sementara itu, salah satu perwakilan aliansi mahasiswa UGM yang turut hadir dalam audiensi tersebut adalah A Fari. Secara garis besar ia mengaku kurang puas dengan audiensi yang dilakukan.
 
Baca Juga: Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo Pastikan Moratorium Hotel di Kawasan Inti Sumbu Filosofi, PHRI DIY: Kami Dukung!
 
"Sebetulnya tidak puas, karena rektor walk out ketika teman-teman mahasiswa sedang menyampaikan aspirasinya lebih lanjut," keluhnya.
 
Hal lain yang juga disoroti Fari adalah, pada audiensi tersebut porsi berbicara Rektor terhitung singkat dan sedikit, hal tersebut juga menjadi salah satu hal yang disesalkan olehnya.
 
"Keinginan kami bu Ova yang menjawab penuh, tadi malah banyak dijawab Dekan dan Warek. Keinginan kami jadi tidak terealisasi sepenuhnya," paparnya.
 
Baca Juga: Pembuangan Sampah di Bantul Meningkat 5 sampai 6 Persen, Ini Solusi Pemerintah untuk Mengatasinya
 
Ia berujar, aliansi mahasiswa UGM sendiri saat ini tengah melakukan konsolidasi ulang, terkait tindak lanjut yang akan dilakukan.
 
Apakah tetap melanjutkan aksi dengan bermalam di Balairung seperti sebelumnya, atau mencari alternatif pendekatan lain.
 
"Kalau lanjutan aksi di Balairung, itu tergantung kesepakatan forum aliansi. Saat ini sedang ada konsolidasi ulang," tandasnya. (iza)
Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Rektor UGM #Balairung UGM #mahasiswa ugm #aliansi mahasiswa UGM #membangun tenda