JOGJA – Di depan 400 mahasiswa di di Auditorium Sukadji Ranuwihardjo Magister Manajemen UGM, Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Santoso menjadi pengisi materi pada BCA Berbagi Ilmu (BBI). Dia menjelaskan transformasi digital BCA hingga saat ini.
Santoso memaparkan pada 1990-an BCA mulai mengenalkan Automated Teller Machine (ATM) pada nasabahnya. Hingga saat krisis ekonomi pada 1998 BCA juga terkena rush. Bahkan asetnya tinggal Rp 5 triliun. Tapi dengan digitalisasi, akhirnya bisa kembali dipercaya masyarakat. “Bahkan dulu BCA itu singkatanya jadi Bank Capek Antre,” ungkapnya.
Pesatnya digitalisasi, kata dia, memberikan dampak signifikan terhadap kehidupan manusia, dan harus bisa beradaptasi dengan cepat. Agar bisa terus beradaptasi, butuh bekal pengetahuan dan keahlian memadai khususnya dalam hal penguasaan teknologi.
“Sebagai lembaga perbankan nasional, BCA merasa perlu berkontribusi mendorong generasi muda memahami dampak digitalisasi pada seluruh aspek kehidupan, dan memiliki bekal cukup untuk menyongsong masa depan,” kata Santoso.
Pada BBI UGM, mahasiswa diajak memahami pentingnya memiliki kreativitas, kemampuan berkolaborasi dan berpikir kritis dalam menghadapi digitalisasi. Santoso mengingatkan peserta kuliah umum agar selalu waspada dan mengutamakan prinsip kehati-hatian dalam beraktivitas di ranah digital.
Selain itu, mahasiswa harus bisa memanfaatkan teknologi secara efektif untuk meningkatkan kualitas kerja. BCA selama ini telah melakukan hal-hal tersebut untuk meningkatkan kualitas layanan kepada nasabah.
BCA, lanjut dia, percaya bahwa inovasi dan kemampuan beradaptasi berkelanjutan sangat penting bagi keberhasilan perusahaan. Teknologi berperan penting dalam membantu BCA memberikan pelayanan terbaik kepada nasabah dan masyarakat.
Salah satu bukti nyata dari pernyataan tersebut adalah keberadaan BCA Mobile serta myBCA. Kedua aplikasi tersebut disediakan BCA untuk mengimbangi perkembangan teknologi yang pesat, dan beragamnya kebutuhan nasabah.
“Keberadaan jaringan ATM BCA di berbagai daerah melengkapi pelayanan yang mudah dan lancar bagi nasabah,” ujar Santoso.
BBI sendiri menjadi salah satu inisiatif unggulan perseroan. Pada edisi kali ini, tema program kuliah umum di bawah payung Bakti BCA tersebut adalah ‘Digitalization and its Impact Toward Business.’. Kegiatan ini merupakan gelaran ketiga dari rangkaian BBI pada tahun 2025, setelah edisi sebelumnya diselenggarakan di Universitas Brawijaya, Malang (17/3) dan Universitas Indonesia, Depok (21/4). BBI UGM. Bertempat BBI kali ini turut dihadiri jajaran rektorat UGM dan manajemen BCA.
Selain melalui perhelatan BBI, Bakti BCA berupaya meningkatkan partisipasi generasi muda dalam menciptakan perubahan positif dengan menyelenggarakan program “Genera-Z Berbakti.”
Program ini dapat diikuti mahasiswa aktif dari seluruh perguruan tinggi. Dalam program berbentuk kompetisi ini, mahasiswa diajak untuk mengajukan proposal program pengabdian masyarakat yang berdampak positif, khususnya di perdesaan.
Kelompok terpilih berkesempatan mendapat pendanaan, pendampingan, apresiasi dengan total nilai mencapai ratusan juta rupiah, sertifikat, hingga dukungan publikasi ilmiah dari Bakti BCA.
Penyelenggaraan BCA Berbagi Ilmu dilatarbelakangi keyakinan bahwa generasi muda merupakan aktor penting calon pemimpin bangsa. Karena itu, lanjut dia, penting bagi BCA ikut membekali mereka agar dapat menjadi pemimpin yang baik bagi dirinya maupun masyarakat.
"Melalui Bakti BCA, kami berkomitmen memberikan dampak positif untuk seluruh lapisan masyarakat, dimulai dari tingkat individu, komunitas, dan ekosistem,” ujar EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn.
Editor : Heru Pratomo