Pengamat Pendidikan UNY Sebut Pengunduran Ratusan CPNS Dosen Bukan Kali Pertama, Perlu Analisis dan Kajian Ulang soal Rekrutmen
Fahmi Fahriza• Sabtu, 19 April 2025 | 06:10 WIB
Dosen Prodi Kebijakan Pendidikan FIPP UNY Ariefa Efianingrum
JOGJA - 714 calon pegawai negeri sipil (CPNS) dosen yang mengundurkan diri, masih menjadi perhatian bagi banyak pihak. Termasuk dari dosen Prodi Kebijakan Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi Universitas Negeri Yogyakarta (FIPP UNY) Ariefa Efianingrum.
Sebagai pengamat pendidikan, Ariefa menyadari bahwa fenomena pengunduran diri massal CPNS ini bukanlah kali pertama. Pada tahun-tahun sebelumnya juga pernah terjadi. Namun kali ini, sebagian besar CPNS yang mengundurkan diri adalah tenaga pendidik, khususnya calon dosen ASN.
"Dalam konteks kebijakan rekrutmen tenaga pendidik, analisis kebutuhan tentu dilakukan dalam rangka perencanaan formasi pendidik yang sesuai kualifikasi akademik dan analisis formasi jabatan," katanya pada Radar Jogja, Jumat (18/4).
Disebutnya, pertimbangan dan keputusan pengunduran diri massal calon dosen ASN barangkali perlu dikaji relevansinya dengan skema optimalisasi. Di mana pilihan PTN ditentukan oleh pemerintah, bukan oleh calon dosen ASN sendiri. Sehingga banyak yang tidak sesuai dengan harapan.
Ia berpandangan, calon dosen ASN yang mengundurkan diri tentu memiliki pertimbangan tertentu. Menurut laporan sementara dari KemenPANRB, ada sejumlah alasan. Seperti, penempatan atau lokasi tugas yang tidak sesuai ekspektasi dan preferensi, alasan kesehatan, keluarga, kesejahteraan, dan alasan lainnya.
Hal tersebut menurutnya cukup dilematis. Mengingat ada ribuan calon ASN lain yang sebelumnya turut berkompetisi, namun tidak lolos mengisi formasi tersebut. Di sisi lain, ada sejumlah calon dosen ASN yang lolos, namun malah mengundurkan diri.
Lebih lanjut, terkait dengan penempatan calon dosen ASN di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), ia beranggapan bahwa hal tersebut seharusnya tidak menjadi persoalan. Jika memang telah diketahui dan diinformasikan sejak awal proses rekruitmen.
"Mengingat setiap ASN harus siap ditempatkan dan melaksanakan pengabdian di mana saja," ujarnya.
Selanjutnya, ia juga menuturkan, bahwa di kalangan generasi muda, secara umum juga terjadi pergeseran dalam preferensi pekerjaan. Generasi Z umumnya lebih tertarik pada pekerjaan yang memberi fleksibilitas, kreativitas, dan ruang untuk berekspresi.
Secara proyeksi, pengunduran diri massal ini juga berpotensi berdampak pada preferensi pekerjaan dan karir generasi Z. Di era transformasi digital, mereka lebih terliterasi sehingga memiliki keleluasaan dan orientasi karir yang lebih variatif atau beragam sesuai dengan preferensi mereka.
"Pengunduran diri massal ini perlu jadi bahan refleksi bagi semua pihak di sistem rekruitmen pengisian formasi CPNS, khususnya calon dosen ASN di perguruan tinggi," pesannya.
Selain itu, ia juga menyarankan agar Kemendiktisaintek dapat mempertimbangkan cadangan calon dosen ASN yang memenuhi kriteria, passing grade, dan kualifikasi akademik untuk mengisi kekosongan posisi.
Aspek penting lainnya, menurutnya perguruan tinggi juga dapat diberi kesempatan untuk melakukan rekruitmen untuk mengisi kekosongan posisi calon dosen ASN tersebut. Ke depan, skema optimalisasi perlu disosialisasikan lebih terbuka dan transparan, sehingga pilihan PTN oleh calon dosen ASN memang sesuai dengan pilihan mereka sendiri, tentu juga telah mempertimbangkan berbagai kondisi dan termasuk domisili mereka.
"Dengan memilih sendiri, tentunya mereka akan berkomitmen dan bertanggung jawab pada pilihan sendiri," tandasnya. (iza)