GUNUNGKIDUL - Momentum kampus mengajar yang dijalani mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD), dimanfaatkan dengan mengadakan pelatihan pemanfaatan platform LiveWorksheets bagi guru-guru SMP Baitul Qur’an, Gunungkidul.
Pemateri dalam pelatihan Nafis Andana mengungkapkan, kegiatan ini bertujuan untuk membekali para pendidik dengan keterampilan teknologi guna menciptakan pembelajaran yang lebih interaktif, inovatif, dan sesuai dengan dinamika dan perkembangan zaman.
"Pelatihan diikuti sejumlah guru dari berbagai mata pelajaran, yang antusias memahami cara penggunaan LiveWorksheets," katanya, Minggu (16/3).
Nafis yang merupakan mahasiswa prodi pendidikan Matematika angkatan 2021 itu menerangkan, platfrom LiveWorksheets ini memungkinkan guru untuk membuat soal interaktif, latihan mandiri, hingga sistem koreksi otomatis yang mempermudah proses penilaian.
"Dengan teknologi tersebut, semoga guru bisa menyajikan materi pembelajaran dengan lebih menarik dan dinamis," ujarnya.
Secara garis besar, Nafis menjelaskan bahwa LiveWorksheets dapat menjadi solusi efektif dalam meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar.
Disebutnya, dengan platform tersebut, guru bisa menghemat waktu dalam penilaian sekaligus meningkatkan motivasi siswa untuk belajar secara mandiri.
Diharapkan, dengan pelatihan ini, para guru semakin siap menghadapi tantangan era digital, dan dapat mengoptimalkan teknologi dalam proses belajar mengajar demi menciptakan pembelajaran yang lebih efektif, efisien, dan menyenangkan bagi siswa.
"Semoga lebih banyak sekolah yang menggunakan teknologi digital secara maksimal, untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih modern dan inklusif," bebernya.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMP Baitul Qur’an Wanuri mengapresiasi inisiatif mahasiswa Kampus Mengajar, yang telah membantu guru-guru dalam mengadopsi teknologi digital dalam pembelajaran.
Dalam kegiatan tersebut, selain pelatihan LiveWorksheets, mahasiswa Kampus Mengajar UAD turut memberikan pendampingan terkait pemanfaatan teknologi lainnya dalam dunia pendidikan, seperti penggunaan Google Classroom dan aplikasi pembelajaran interaktif lainnya.
Dengan demikian, para guru tidak hanya mengenal satu platform, tetapi juga mendapat wawasan yang lebih luas mengenai berbagai opsi yang dapat digunakan untuk mendukung proses pembelajaran. (iza)
Editor : Heru Pratomo