Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Milad ke-82, Universitas Islam Indonesia Berikhtiar untuk Mengerti Bumi

Delima Purnamasari • Rabu, 22 Januari 2025 | 04:00 WIB

 

TENGAH: Rektor UII Fathul Wahid saat memberikan penjelasan terkaid milad ke-82 UII Selasa (21/1/2025).
TENGAH: Rektor UII Fathul Wahid saat memberikan penjelasan terkaid milad ke-82 UII Selasa (21/1/2025).
 

SLEMAN - Universitas Islam Indonesia (UII) akan memasuki usia ke-82 pada 27 Rajab yang bertepatan dengan 27 Januari 2025. Kali ini kampus yang dulu bernama Sekolah Tinggi Islam ini mengusung tema lingkungan bertajuk UII Mengerti Bumi.

Rektor UII Fathul Wahid menyebut, ada berbagai kegiatan lingkungan dalam rangka mendukung milad kali ini. Mulai dari penanaman pohon, pengembangan transportasi publik, hingga pengolahan sampah mandiri.

"Kami tidak hanya fokus pada internal, tapi ingin berdampak pada masyarakat luar. Kami mencoba memantik kesadaran kolektif," ucapnya Selasa (21/1/2025).

Dia juga menegaskan, mengerti bumi juga berarti harus memperhatikan penghuninya. Untuk itu UII berkomitmen untuk memberikan kuliah gratis. "Setiap program studi ada sembilan hingga sepuluh kursi untuk kuliah nol rupiah," ucapnya.

Fathul berharap, usia ke-82 ini semakin menegaskan konstribusi UII di tengah masyarakat Indonesia. Dengan kata lain, menjadi bagian untuk mendidik anak bangsa untuk siap berkarya.

Sementara Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Ilya Fadjar Maharika menambahkan, tema UII Mengerti Bumi juga ditunjukkan lewat pola dasar kawung sebagai logo.

 Baca Juga: Pemprov Siapkan Anggaran Rp 300 Miliar untuk Pembangunan Gedung Baru DPRD DIY di Jalan Kenari Jogja

"Kawung ini menggambarkan biji. Tumbuhan di dunia itu bermula dari biji," ucapnya.

Menurutnya, tema milad kali ini menunjukkan bahwa UII tidak hanya mengurus persoalan akademik. Namun, menghasilkan berbagai kegiatan yang diupayakan bisa berdampak.

"Ini upaya sederhana untuk memahami kompleksitas bumi," katanya.

Ilya menilai, saat ini manusia jadi unsur paling dominan dalam mengubah bumi. Sehingga, ada potensi untuk mencelakakan.

"Dulu manusia mengikuti ritme bumi. Tapi sekarang manusia yang menentukan nasib bumi mau ke mana," katanya. (del/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#pengembangan #Universitas Islam Indonesia (UII) #Kegiatan #transportasi publik #Pengolahan Sampah #penanaman pohon #lingkungan #UII Mengerti Bumi #milad #mandiri