JOGJA - Sinergi kolaborasi dilakukan antara tiga Fakultas di Universitas Gadjah Mada (UGM), yakni Fakultas Teknik, Fakultas Teknologi Pertanian, dan Fakultas Farmasi. Ketiganya menancapkan tonggak penting berkonsep urban farming, dengan penerapan booster cair berbahan dasar endapan silika dan mineral ikutan produksi energi geotermal atau panas bumi.
"Ini dilakukan untuk pemeliharaan tanaman hortikultura dan tanaman hias di kebun kampus, yang ada di sebelah Grha Kara Grafika UGM," kata Kepala Sub Direktorat Pengembangan Inovasi Akademik, Direktorat Kajian dan Inovasi Akademik (DKIA) UGM, Dr. Ngadisih, Kamis (26/12).
Disebutkan, sinergi tersebut lahir atas kerja kolektif dari para peneliti multidisiplin ilmu yang ada di UGM. Termasuk Dr. Ngadisih yang ahli pada teknik konservasi tanah dan air, Dr. Pri Utami peneliti di Pusat Penelitian Panas Bumi FT UGM dari bidang Geoteknologi Panas Bumi, dan Dr. Ronny Martien yang punya kemampuan di bidang Nano Teknologi.
"Lebih dari inovasi, ini mendorong kolaborasi lintas disiplin ilmu di kalangan civitas, baik dari bidang pertanian maupun non-pertanian," ucapnya.
Kini, kebun kampus Fakultas Teknik menjadi percontohan urban farming berbasis material geotermal pertama di Indonesia, hal ini secara konsep juga mendukung Sustainable Development Goals (SDGs).
"Khususnya tujuan 2 zero hunger, SDGs 7 affordable and clean energy, dan SDGs 17 partnerships for the goals," bebernya.
Dr. Ngadisih menguraikan, dalam implementasi urban farming di lingkup UGM, baru saja diserahkan benih dan total 400 bibit tanaman hortikultura yang terdiri dari bibit cabai rawit, terong, seledri, sawi, selada, kangkung, dan bayam.
"Turut diserahkan juga pupuk kohe kambing, booster katrili, dan booster sulasih-sulanjana yang merupakan produk penelitian tim geotermal," paparnya.
Ia menyampaikan, booster berfungsi sebagai penyubur dan penguat tanaman lahir dari dari kebutuhan industri-industri panas bumi, untuk memanfaatkan material ikutan silika dalam proses produksi geotermal, menjawab kelangkaan pupuk yang sangat dibutuhkan petani, dan keharusan untuk melestarikan lingkungan.
Diakuinya, booster cair nanosilika geotermal yang dibuat dari endapan geotermal di lapangan Dieng, Jawa Tengah, yang dioperasikan oleh PT. Geo Dipa Energi dinamakan Sulasih-Sulanjana, seperti tersirat dalam kearifan lokal dalam bercocok tanam.
"Lalu booster yang diproduksi dari endapan panas bumi Lahendong, Sulawesi Utara diberi nama Katrili, seperti nama tarian pengucapan syukur dari Minahasa," ulasnya (iza).
Editor : Heru Pratomo