JOGJA – Anak-anak harus mendapatkan edukasi soal bahaya bullying sedini mungkin. Hal ini karena kasus perundungan yang terjadi di bangku SMP hingga SMA, pelaku terbiasa melakukan bullying sejak kecil. Sehingga menganggap itu hal yang biasa dilakukan.
"Anak-anak itu penting untuk diedukasi sejak kecil. Karena mereka masih mudah terpengaruh, jadi harus dipengaruhi hal-hal yang baik," sebut pengamat pendidikan sekaligus Guru Besar Sosiologi pendidikan UNY Prof Farida Hanum.
Menurtunya, ada tiga pihak yang umumnya sering menjadi korban bullying. Pertama adalah anak yang pendiam. Perunudungan yang dilakukan, umumnya adalah disuruh-suruh.
Kedua adalah mereka yang pintar, biasanya dipaksa mengerjakan tugas. Terkahir adalah mereka yang kaya, suka dimanfaatkan untuk mentraktir teman-temannya.
"Dari temuan riset saya itu, ada yang sampai diancam juga pakai benda-benda, seperti pakai cutter," sebutnya.
Selain itu, ada beberapa titik rawan di sekolah yang sering menjadi lokasi perundungan. Antara lain adalah gudang, toilet, kawasan belakang sekolah, hingga warung dekat sekolah.
"Kami sarankan sekolah memasang CCTV di tempat rawan seperti itu, sambil terus mengedukasi," pesannya.
Farida menyadari, bahwa edukasi bullying bukan hanya tanggung jawab sekolah atau guru semata. Namun juga keluarga. Terutama orang tua yang memiliki peranan besar sebagai edukator.
"Kalau di sekolah marwah bimbingan konseling bagi siswa harus dikembalikan dan dioptimalkan, ini tugas semua warga sekolah, bukan cuma guru BK semata," ujarnya.
Terpisah, Deni Hanafi sebagai orang tua yang memiliki anak SMP mengaku, memiliki kepedulian besar soal bullying. Tidak saja mengedukasi secara lisan, dia secara konsisten juga memberi contoh lewat tindakan.
"Saya ajari anak saya untuk sopan santun ke semua orang, saya contohkan langsung juga ke dia," tutur warga Jetis, Jogja ini.
Dia juga kerap meluangkan waktu untuk sekadar mengobrol atau bermain dengan sang anak. Menurutnya, hal tersebut penting dilakukan untuk mengetahui secara berkala kabar atau kondisi sang anak.
"Keluarga saya punya jadwal family time setiap weekend, kami jalan atau makan bersama agar anak jadi terbuka atas semua hal yang dilakukannya," sebutnya. (iza/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita