BANTUL - Isu seputar kesehatan mental pada kalangan remaja hingga kini masih jadi problema yang cukup bergejolak. Secara umum, banyak remaja di Indonesia saat ini yang terindikasi punya gangguan kecemasan dan kekhawatiran, atau biasa disebut anxiety.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan AIK Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Faris Al-Fadhat mengatakan, persoalan anak muda di Indonesia tentang kesehatan mental tersebut, jadi salah satu aspek penting yang turut menjadi perhatian UMY.
"Beberapa waktu lalu, ada survei menyebut Indonesia ada di urutan tiga teratas dengan angka depresi tertinggi, mencapai 29 persen dan dialami para remaja atau generasi muda," katanya Kamis (10/10/2024).
Adapun, salah satu langkah nyata yang diambil UMY dalam menyikapi fenomena tersebut adalah menggelar Festival Healing Indonesia 2024: Terapi Massal dan Instant Healing dengan Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT).
"Tentu dengan adanya fenomena ini, UMY perlu memberi perhatian khusus tentang kesehatan mental," sebutnya.
Faris menuturkan, kegiatan yang diinisiasi oleh Divisi Konseling dan Kesejahteraan, Lembaga Pengembangan Kemahasiswaan dan Alumni (LPKA) UMY tersebut jadi salah satu upaya untuk mengurangi angka tingkat depresi. "Momentumnya sekaligus memperingati Hari Kesehatan Mental Dunia," urainya.
Disebutnya, Hari Kesehatan Mental Dunia bisa menjadi cambuk penting bagi setiap elemen masyarakat di Indonesia. Untuk meningkatkan kepedulian dan kesadarannya tentang pentingnya kesehatan mental.
Dalam praktiknya, Festival Healing Indonesia 2024 melakukan terapi massal kepada civitas academika UMY yang hadir dan dipimpin oleh founder SEFT. Terapi massal ini diharapkan bisa mengurangi beban atau emosi negatif, dan dapat dilakukan berkala untuk mendapat hasil maksimal.
Sementara itu, Founder SEFT Ahmad Fauzi Zainuddin menjelaskan, pada faktanya, seluruh manusia di dunia pasti pernah merasakan atau bahkan mengalami depresi dan stres, tanpa terkecuali.
"Namun uniknya setiap manusia bisa memberi kesembuhannya sendiri, meski tanpa bantuan dari dokter, psikolog, atau psikiater," ujarnya.
Dia berujar, kesembuhan itu disebut sebagai kesembuhan spontan. Dapat terjadi dalam berbagai kondisi penyakit, baik itu fisik ataupun emosional. "Namun, untuk mencapai kesembuhan spontan ada beberapa faktor yang dapat berpengaruh dan perlu diperhatikan," jelasnya.
Dia menguraikan, beberapa faktor atau cara agar bisa menuju kesembuhan adalah memperdalam hubungan dengan Tuhan. Lalu, mengubah pola makan sesuai dengan asupan yang dibutuhkan oleh tubuh dan memiliki gizi maupun nutrisi seimbang.
Lalu, mengonsumsi suplemen atau obat herbal, meningkatkan perasaan positif, melepaskan energi negatif. Hingga mengikuti intuisi dan memiliki alasan untuk hidup. "Faktor yang juga sangat penting adalah menerima adanya dukungan sosial," paparnya.
Dia mengamati, banyak anak muda ketika sedang merasakan sedih atau perasaan negatif lainnya, justru memilih untuk menyendiri. Menurutnya, perilaku itu justru kurang tepat.
Sebab, salah satu alasan bunuh diri di Indonesia yang cukup tinggi juga diakibatkan oleh kebiasaan tersebut. "Oleh karena itu, bila nanti merasakan kesedihan alangkah baiknya bertemu dengan teman-teman untuk mendapatkan energi positif," pesannya. (iza/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita