BANTUL - Keterbatasan anggaran menjadi tantangan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Bantul untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM). Di sisi lain, perubahan parameter penilaian membuat perpustakaan desa dan sekolah harus memenuhi indikator yang lebih terperinci, termasuk ketersediaan koleksi digital.
Kepala Dispusip Bantul Dian Mutiara Sri Rahmawati mengatakan, capaian IPLM Bantul pada 2025 mengalami penurunan akibat perubahan parameter penilaian. Pada 2026, pihaknya menargetkan IPLM sebesar 10 dan Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) sebesar 58.
“Indeks literasi tahun 2025 kami tuh anjlok karena perbedaan parameter. Yang bikin anjlok itu tidak hanya di Bantul, di DIY, bahkan se Indonesia,” ujar Dian saat dihubungi melalui sambungan telepon Rabu (14/10).
Baca Juga: Pengangguran di DIY Naik, Disnakertrans DIY Soroti Keterampilan dan Kebutuhan Industri Tak Sesuai
Menurut Dian, indikator penilaian kini lebih terperinci, antara lain menyangkut koleksi digital, layanan perpustakaan, dan ketersediaan buku. Persoalannya, masih banyak perpustakaan desa dan sekolah dasar (SD) yang belum memiliki koleksi digital. Pemenuhan indikator tersebut juga terkendala keterbatasan anggaran.
“Dari Perpusnas kan bilang dia tidak bisa men-support daerah dengan memberi buku, tidak bisa diberi bantuan, dan lain sebagainya. Itu berimbas di perpustakaan kami, perpustakaan desa, dan perpustakaan sekolah,” jelasnya.
Meski menghadapi kendala anggaran, dispusip tetap melakukan pendampingan terhadap perpustakaan sekolah dan desa. Kunjungan lapangan dilakukan dengan memanfaatkan kegiatan lain agar pembinaan tetap berjalan di tengah efisiensi anggaran.
Dispusip juga berkolaborasi dalam kegiatan yang melibatkan anggota dewan untuk membantu perpustakaan sekolah, antara lain melalui sumbangan buku dan tutorial penataan perpustakaan.
Baca Juga: Warning! Antraks Muncul Lagi, Dinkes Gunungkidul Pantau Warga Paliyan selama 60 Hari
Selain pendampingan langsung, Dispusip menggelar pertemuan daring untuk membantu pengelola perpustakaan memahami pengisian kuesioner penilaian dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas).
“Kita adakan Zoom beberapa kali dengan perpustakaan yang ada di Kabupaten Bantul, sekitar 500-an audiensnya, kita kasih tutorial, tata cara mengisi kuesioner Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dari perpusnas,” ujarnya.
Pendampingan tersebut diharapkan membantu pengelola perpustakaan memperbaiki tata kelola dan menyiapkan data sesuai indikator penilaian. Dispusip berharap capaian IPLM dan TKM Bantul pada 2026 meningkat meski anggaran terbatas dan parameter penilaian berubah. (cr2)
Editor : Sevtia Eka Novarita