BANTUL - Penasaran bagaimana tebu bisa berubah menjadi gula? Pabrik Gula Madukismo, Bantul, membuka kesempatan bagi masyarakat untuk melihat langsung proses produksi tersebut melalui program agrowisata.
Pengunjung tidak hanya diajak melihat proses pengolahan tebu menjadi gula, tetapi juga mendapatkan edukasi mengenai budaya kerja dan sejarah Pabrik Gula Madukismo.
Koordinator Pengembangan Aset PT Madubaru PG-PS Madukismo Mahmud Safrudi mengatakan Madukismo mulai membuka diri untuk kunjungan masyarakat sejak 1997. Dari kebutuhan masyarakat untuk mengetahui proses produksi gula tersebut, kemudian dikembangkan kegiatan agrowisata.
Baca Juga: Meski Berhasil Cetak Gol Perdana, Melvyn Lorenzen Belum Puas karena PSS Sleman Tak Dapat Poin
“Memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk melihat proses pengolahan tebu menjadi gula,” ujar Mahmud, Selasa (8/9).
Dalam kunjungan, pengunjung dapat melihat proses produksi sejak tebu masuk ke pabrik. Tebu terlebih dahulu digiling untuk mengambil air tebunya. Air tebu tersebut kemudian dimurnikan sebelum masuk ke tahap berikutnya.
Setelah melalui pemurnian, air tebu diproses melalui tahap evaporasi atau penguapan. Cairan kemudian dimasak melalui proses kristalisasi hingga terbentuk kristal-kristal gula.
Baca Juga: 53 Siswa dan Guru SDN 1 Sumberagung Bantul Keracunan MBG, Diduga dari Menu Bistik Galantin
“Selanjutnya, air tebu dimasak melalui proses kristalisasi hingga muncul kristal-kristal gula,” jelasnya.
Selain menyaksikan proses produksi, pengunjung juga dapat mengenal budaya kerja yang berlangsung di lingkungan pabrik. “Mengetahui budaya kerja di pabrik itu seperti apa,” ujarnya.
Agrowisata Madukismo juga menjadi sarana mengenalkan sejarah pabrik gula tersebut. Salah satu bagian yang masih menjadi daya tarik kunjungan yakni kereta lori yang telah ada sejak Madukismo berdiri.
Madukismo dibangun pada 1955 atas prakarsa Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Sebelumnya, terdapat 17 pabrik gula di Yogyakarta. Namun, seluruh pabrik tersebut telah dibumihanguskan.
Madukismo kemudian dibangun untuk menggantikan keberadaan 17 pabrik gula tersebut. Salah satu tujuannya yakni merekrut tenaga kerja yang sebelumnya bekerja di pabrik-pabrik gula tersebut.
“Salah satunya dengan tujuan merekrut tenaga kerja yang sebelumnya bekerja di pabrik-pabrik gula tersebut,” tambah Mahmud.
Baca Juga: SCENTS Gugat Perdagangan Ilegal Sisik Trenggiling, Tujuh Tergugat Dituntut Rp 2,46 Miliar
Dalam kegiatan produksinya, Madukismo menargetkan sekitar 250 ton gula atau 5.000 karung per hari dari sekitar 5.000 ton tebu yang digiling.
Saat ini, kunjungan ke Madukismo tidak hanya untuk kegiatan agrowisata. Pabrik juga terbuka untuk kegiatan praktik kerja lapangan (PKL), magang, penelitian, serta kegiatan lainnya. Dalam sehari, Madukismo maksimal menerima empat kunjungan. Kegiatan berlangsung mulai pukul 07.00 hingga 14.00 WIB dengan durasi sekitar dua jam untuk setiap kunjungan. (cr2)
Editor : Sevtia Eka Novarita