BANTUL - Warga Lanteng 2, Selopamioro, Imogiri, Bantul berhasil mengelola layanan air bersih secara mandiri melalui penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (Pamsimas). Selain menyediakan air dengan tarif sekitar 60 persen lebih murah dibandingkan PDAM, pengelolaan tersebut juga menghasilkan surplus yang kembali dirasakan warga dalam bentuk tunjangan hari raya (THR) setiap tahun.
Pengurus Pamsimas Lanteng 2 Idkha Mustofa atau Topik mengatakan, layanan tersebut kini memiliki sekitar 100 pelanggan aktif yang tersebar di tiga wilayah. Air dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga maupun usaha mikro warga. “Lanteng 2 RT 1, Lanteng 2 RT 2, terus Siluk 1 kalau tidak salah RT 9. Jadi tiga RT,” ujar Topik Minggu (6/9).
Tarif layanan ditentukan berdasarkan pemakaian air yang diukur menggunakan meteran. Biayanya jauh lebih murah dibandingkan layanan PDAM. “Semisal kita bayar Rp 200.000, berarti kita enggak sampai Rp 80.000 pembayarannya tiap bulannya,” katanya.
Menurut Topik, penggunaan meteran juga menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan pelanggan. Sebelumnya, pembayaran tidak berdasarkan jumlah pemakaian sehingga sempat menimbulkan keraguan di tengah masyarakat. “Dulu awalnya enggak pakai meteran, jadi kurang dipercaya masyarakat,” ujarnya.
Pamsimas tersebut merupakan aset RT 01 Lanteng 2. Operasional sehari-hari dikelola empat orang pengurus, termasuk Topik. Pendapatan dari pelanggan digunakan terlebih dahulu untuk kebutuhan operasional, seperti pembayaran listrik, perawatan pompa dan jaringan, serta honor pengelola.
Setelah seluruh kebutuhan operasional terpenuhi, masih terdapat surplus yang masuk ke kas RT. “Rata-rata Rp 2,5 juta per bulan itu masuk kas. Bersih segitu,” tegasnya.
Baca Juga: Wisatawan Naik, Okupansi Hotel Malah Turun, Dispar DIY Siapkan Event untuk Perpanjang Masa Tinggal
Dana tersebut tidak hanya digunakan untuk kebutuhan lingkungan. Warga juga ikut merasakan manfaat langsung dari keberadaan Pamsimas. Salah satunya melalui pembagian THR kepada seluruh warga RT 01 Lanteng 2 setiap tahun. “Jadi ini kan punya RT, seluruh warga RT itu tiap tahun kita agendakan dapat THR,” ujar Topik.
Pamsimas Lanteng 2 mulai dikembangkan pada 2016 setelah warga mengajukan bantuan sumur bor. Saat itu, sebagian warga mengalami kesulitan mendapatkan air, terutama mereka yang tinggal di wilayah lebih tinggi.
Sumur bor awal memiliki kedalaman sekitar 30 meter. Namun, pada 2018 debit air mulai tidak mencukupi kebutuhan warga. Pengelola kemudian memperdalam sumur hingga sekitar 50 meter.
Upaya tersebut membuat pasokan air kembali mencukupi kebutuhan pelanggan hingga saat ini. “Alhamdulillah sekarang sudah bisa mencukupi untuk debit airnya,” katanya.
Meski demikian, pengelola belum berani menambah pelanggan. Saat ini sekitar 50 kepala keluarga masih menunggu untuk mendapatkan sambungan Pamsimas. Pengelola masih mempertimbangkan kemampuan debit sumber air agar penambahan pelanggan tidak mengganggu pasokan yang sudah berjalan.
Karena itu, pengelola berharap pemerintah daerah kembali memberikan dukungan, terutama untuk pembangunan sumur bor dan instalasi tambahan. Dengan sumber air yang lebih besar, cakupan layanan dapat diperluas tanpa mengurangi pasokan bagi pelanggan yang sudah ada. (cr2/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita