BANTUL - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bantul menargetkan pembangunan stasiun pengambilan sampah terpadu di sembilan titik strategis untuk mendukung pengelolaan sampah menuju fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL). Dari sembilan titik tersebut, lima lokasi di wilayah Bantul bagian utara diprioritaskan pada tahap awal tahun depan.
Kepala DLH Kabupaten Bantul Bambang Purwadi Nugroho mengatakan, pembangunan stasiun pengambilan sampah diperlukan untuk mendukung sistem pengangkutan sampah menuju fasilitas PSEL. Pemerintah masih memetakan lokasi yang dinilai strategis dan sesuai kebutuhan.
Baca Juga: Sikut Newcastle! Perburuan Winger Rp 1,2 Triliun Makin Panas Setelah Arsenal Ditolak Julian Alvarez
“Target idealnya tentu membangun depo baru, tetapi jika anggaran efisiensi, kami akan mengoptimalkan TPS3R yang sudah ada,” ujar Bambang kemarin (31/8).
Menurut dia, pembangunan stasiun pengambilan sampah menjadi bagian dari persiapan Bantul sebagai daerah penempatan fasilitas PSEL wilayah DIJ. Pemkab Bantul nantinya juga memiliki kewajiban memasok sampah sebanyak 250 ton per hari ke fasilitas tersebut.
Jumlah tersebut hampir separo dari total potensi timbulan sampah di Bantul yang mencapai 421 ton per hari. Untuk memenuhi kebutuhan pengangkutan, DLH memperkirakan diperlukan sedikitnya 50 armada truk berkapasitas lima ton.
Baca Juga: Amorim Jadi Faktor Penting, AC Milan Selangkah Lagi Dapatkan Omari Hutchinson?
Sementara saat ini, Bantul telah memiliki 36 armada. Kekurangan armada diharapkan dapat dipenuhi melalui penambahan kendaraan dalam APBD 2027. “Mudah-mudahan di anggaran APBD 2027 bisa dilakukan penambahan armada baru,” harapnya.
Bambang menegaskan, pengiriman sampah menuju fasilitas PSEL nantinya tidak dilakukan secara perorangan oleh masyarakat. Sampah harus diangkut menggunakan armada resmi yang direkomendasikan pemerintah daerah.
Sementara itu, sosialisasi kepada masyarakat di sekitar lokasi PSEL juga disiapkan. Wilayah seperti Sitimulyo dan Bawuran menjadi sasaran sosialisasi karena berada di sekitar lokasi penempatan proyek strategis nasional tersebut.
Namun, sosialisasi publik masih menunggu penyelesaian dokumen detail engineering design (DED). Dokumen tersebut ditargetkan selesai setelah Agustus 2026 dan akan menjadi bahan untuk menjelaskan bentuk, desain, serta luasan fasilitas kepada masyarakat. “Gambar dan luasannya harus jelas dulu agar saat sosialisasi kami bisa lebih mudah menerangkan bentuk dan desainnya secara detail,” jelasnya. (cr2/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita