BANTUL – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menggelar bursa kerja atau job fair selama dua hari, 28-29 Agustus 2026. Sebanyak 20 perusahaan dilibatkan dalam kegiatan tersebut sebagai upaya mempertemukan lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan tenaga kerja di dunia industri.
Kegiatan ini menjadi salah satu langkah UMY dalam membantu menekan angka pengangguran dari kalangan lulusan perguruan tinggi, khususnya di Kabupaten Bantul. Selain membuka akses terhadap berbagai lowongan pekerjaan, job fair juga menjadi ruang pertemuan antara pencari kerja, perusahaan, perguruan tinggi, dan pemerintah.
Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan UMY, Prof. Dr. Zuli Qodir, M.Ag., mengatakan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral terhadap masa depan para lulusannya.
Menurutnya, kampus tidak cukup hanya mencetak mahasiswa hingga memperoleh gelar sarjana. Lulusan juga perlu memiliki peluang untuk masuk ke dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikan.
"Bahaya sekali kalau kemudian kita punya mahasiswa tetapi alumnus-nya pengangguran. Itu saya jangan-jangan ikut berdosa," ujar Zuli saat ditemui Radar Jogja, Jumat (28/8).
Baca Juga: Festival Mustika Rasa Hadir di Jogja, Hasto Wardoyo Ajak Warga Nikmati Warisan Kuliner Bung Karno
Zuli menilai persaingan memasuki dunia kerja semakin ketat. Karena itu, lulusan perguruan tinggi tidak bisa hanya mengandalkan nilai akademik atau Indeks Prestasi Kumulatif (IPK).
Menurutnya, kemampuan akademik harus berjalan beriringan dengan soft skill, keterampilan khusus, serta etika yang baik.
"Yang dibutuhkan bukan hanya IPK tinggi, tetapi juga soft skill, keterampilan dan etika yang baik," ujarnya.
Dia juga menyoroti pentingnya peran pemerintah dalam memperluas kesempatan kerja. Menurut Zuli, upaya mengurangi pengangguran tidak dapat hanya dibebankan kepada perguruan tinggi.
Pemerintah diminta lebih serius merealisasikan berbagai program penyediaan lapangan pekerjaan. Di sisi lain, perusahaan swasta juga diharapkan lebih aktif membuka kesempatan bagi tenaga kerja baru.
"Kampus sudah meluluskan, anak-anaknya pintar, akhlaknya baik, soft skill-nya bagus, tetapi lapangan pekerjaan tidak dibuka," tegasnya.
Kepala Bidang Penempatan Tempat Kerja Disnakertrans Bantul, Agung Kurniawan, mengakui penyerapan tenaga kerja dari kalangan lulusan perguruan tinggi masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian.
Menurutnya, penanganan pengangguran membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dunia industri, dan lembaga pendidikan.
"Sinergisitas dan kerja sama antara pemerintah, dunia usaha, dunia industri, dan lembaga pendidikan sangat penting untuk mengurangi angka pengangguran di Kabupaten Bantul," ujar Agung.
Kolaborasi tersebut dinilai penting agar kebutuhan industri dapat diselaraskan dengan kompetensi lulusan perguruan tinggi. Dengan begitu, pencari kerja memiliki akses yang lebih luas terhadap pekerjaan, sementara perusahaan dapat memperoleh tenaga kerja sesuai kebutuhan.
Baca Juga: Tak Banyak yang Tahu, Indonesia Punya Tiga Spesies Orangutan
Selain persoalan penyerapan lulusan S1, Agung juga mengingatkan perusahaan yang berpartisipasi dalam job fair agar tetap memenuhi ketentuan ketenagakerjaan.
Salah satunya berkaitan dengan kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas. Perusahaan diminta memperhatikan ketentuan mengenai kuota tenaga kerja disabilitas sesuai regulasi yang berlaku.
"Sesuai regulasi, ada kewajiban 1% dari 100 pekerja untuk memberikan porsi bagi tenaga kerja disabilitas," jelas Agung.
Melalui pelaksanaan job fair tersebut, UMY berharap akses masyarakat terhadap informasi dan kesempatan kerja semakin terbuka. Kolaborasi antara kampus, perusahaan, dan pemerintah diharapkan tidak berhenti pada kegiatan bursa kerja, tetapi dapat berlanjut dalam menciptakan penyerapan tenaga kerja yang berkelanjutan.
Dengan demikian, lulusan perguruan tinggi tidak hanya memiliki bekal akademik, tetapi juga mendapatkan akses yang lebih mudah untuk memasuki dunia kerja dan memperoleh penghidupan yang layak.
Editor : Bahana.