Canggih, Lahan Mangkrak di Bantul Disulap dengan Bantuan AI dan IoT

Aris Romadhon • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 14:32 WIB
Petani sedang mengolah lahan pertanian terpadu Banyu Kencono di Kalurahan Pleret - Aris Romadhon/Radar Jogja
Petani sedang mengolah lahan pertanian terpadu Banyu Kencono di Kalurahan Pleret - Aris Romadhon/Radar Jogja

BANTUL - Lahan seluas setengah hektar di Kalurahan Pleret, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, kini tampil beda.

Tanah yang mulanya tak produktif diubah menjadi percontohan agrowisata berbasis pertanian terpadu.

Uniknya, sawah ini sudah dikendalikan oleh kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) serta jaringan sensor Internet of Things (IoT). 

Langkah berani ini bermula dari keprihatinan Lurah Pleret Taufik Kamal, terhadap minimnya regenerasi petani dan maraknya kendala pengairan di wilayahnya.
Baca Juga: Cara Adopsi Orangutan Kalimantan Secara Online di BOS, Tak Dibawa Pulang tapi Bisa Ikuti Perjalanann

Selain itu, ia juga melihat minimnya keuntungan yang didapat karena lahan sawah yang sempit.

"itu nek mung lahane sempit itu enggak akan bathi (untung)," ujar Taufik.

Berangkat dari kegelisahan tersebut, Kalurahan Pleret memanfaatkan Dana Keistimewaan melalui program Desa Mandiri Budaya untuk membangun ekosistem agrowisata edukatif.

Lahan tersebut kini ditanami tiga komoditas, yaitu bawang merah, cabai, dan pare, hal tersebut dilakukan guna meminimalisasi risiko jika salah satu harga pasar anjlok.

Di lapangan, pengelolaan lahan modern ini dipercayakan kepada warga setempat.

Penanggungjawab Pertanian Wisata Banyu Kencono Soni Susanto, menjelaskan bahwa teknologi sistem seperti ini baru pertama kali diterapkan di Bantul, bahkan mungkin di DIY.

“Khusus untuk data edukasi ini," jelas Soni kepada Radar Jogja (25/8).

Integrasi AI membuat operasional sawah menjadi jauh lebih efisien.

Hal itu dibuktikan dengan lahan setengah hektar yang hanya digarap oleh dua orang tenaga kerja.

 Bahkan, para pekerja dapat memantau kondisi lahan secara langsung dari gawai mereka.

Pendekatan berbasis teknologi ini tak sekadar menekan biaya operasional harian, tetapi juga menjanjikan tingkat pengembalian modal yang terukur.

 Investasi awal untuk perangkat IoT dan olah lahan diperkirakan dapat tertutup dalam rentang waktu dua tahun melalui hasil panen.

Potensi ekonomi lain datang dari data riset. Hasil rekam jejak parameter tanah, kesehatan daun melalui kamera multispektral, hingga riwayat cuaca harian yang tersimpan di cloud memiliki nilai jual tersendiri bagi akademisi, pihak swasta, maupun Dinas Pertanian.

Baca Juga: Berawal dari Warga Bakar Sampah, Lahan Salak Seluas 1000 Meter di Sleman Terbakar

"Hasilnya nanti kita tidak hanya bisa menjual produk atau hasil tani, tetapi juga hasil riset," ujar Soni.

Inovasi di Kalurahan Pleret membuktikan bahwa pertanian masa depan tak sekadar soal hasil panen dan kedaulatan pangan, tetapi juga menyangkut edukasi wisata serta komoditas baru berupa bisnis data. (Cr2)

Editor : Bahana.
pleret bantul teknologi AI Bantul lahan tak produktif