Masih Dihadapkan Tantangan, Hasil Panen Bawang Merah di Bantul Melonjak Lebih dari 100 Persen

Aris Romadhon • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 20:38 WIB
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih saat menghadiri panen raya di Bulak Bungkus, Parangtritis, Ketek Bantul, Kamis (20/8/2026). Aris Romadhon/Radar Jogja
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih saat menghadiri panen raya di Bulak Bungkus, Parangtritis, Ketek Bantul, Kamis (20/8/2026). Aris Romadhon/Radar Jogja

BANTUL - Musim panen raya kali petani bawang merah di Kalurahan Parangtritis, Kapanewon Kretek, Kabupaten Bantul, mencatatkan peningkatan hasil lebih dari 100 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Petani bawang merah Wandio mengatakan, produksi bawang merah musim ini mengalami peningkatan. Tahun lalu hasil panennya tidak mencapai 1 ton per 1.000 meter persegi, sekarang melonjak. "Melebihi 100 persen rata-rata, jauh lebih bagus sekarang," ujar Wandio.

Ia menambahkan dari segi harga juga mengalami peningkatan. “Dulu harganya sekitar Rp 10 ribu per kilo, kalau sekarang di atas Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu per kilogram," katanya.

Baca Juga: Jadi Saksi Ahli Praperadilan Reno Candra Sangaji, Wadek FH UGM Nilai Hitungan BPKP Sah Digunakan

Wandio menyebut keberhasilan panen ini tak lepas dari faktor cuaca yang baik dan penggunaan benih unggul jenis Brambang Thailand. 

Hal tersebut diakui oleh Bupati Bantul Abdul Halim Muslih. Halim menyampaikan, komoditas hortikultura di wilayah Bantul selatan ini menjadi salah satu penyumbang sekitar 70 persen dari total produksi bawang merah di DIY.

"Panen seluas 200 hektare dengan produksi 21 ton per hektare. Berarti lebih dari 4.000 ton panen hari ini kita dapatkan," ujar Halim saat menyampaikan sambutannya pada agenda panen raya bawang merah di Pendopo Bulak Bungkus, Kamis (20/8/2026).

Baca Juga: Gempa Magnitudo 3,5 Kamis Sore, Getaran Dirasakan dari Bantul hingga Klaten

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kalurahan Parangtritis Kadiso menyampaikan, suksesnya panen raya didukung oleh penerapan efisiensi biaya karena penggunaan sistem elektrifikasi (pompa listrik) yang mampu memangkas biaya penyiraman hingga 88 persen.

“Elektrifikasi dimanfaatkan para petani sebagai alat light trap untuk pengendalian hama dan penyakit,” jelasnya.

Walaupun meraih panen melimpah, para petani masih dihadapkan pada beberapa tantangan yang butuh perhatian serius.

Baca Juga: 4.817 Lowongan Kerja Dibuka di Job Fair HUT Jateng, Penyandang Disabilitas Ikut Dapat Kesempatan

Kendala yang dihadapi minimnya tenaga kerja lokal. Petani berusia tua sudah tidak sanggup lagi bekerja berat, sementara generasi muda lebih berminat berkarir di sektor pariwisata. Akibatnya, kelompok tani harus mendatangkan tenaga kerja dari luar daerah.

Tantangan lain bersumber dari aturan pemerintah pusat terkait plotting pupuk bersubsidi.

“Jatah subsidi pupuk bersubsidi kami hanya NPK Phonska, padahal kami butuh ZA dan SP, artinya kita harus membeli pupuk nonsubsidi dengan harga yang cukup tinggi,” ujar Kadiso.

Baca Juga: Sebanyak 17 KKMP Masih Bingung Pilih Usaha, Disperinkop UKM Dampingi Pengurus Susun Model Bisnis

Terkait teknologi modern, penggunaan drone oleh petani milenial memang terbukti sangat efektif dan efisien untuk pengendalian hama. Namun, alat tersebut hingga kini masih berstatus pinjaman. “Drone yang diterbangkan itu biasa dipinjam dari Maksitani,” sambungnya.

Ia menegaskan pentingnya gudang penyimpanan untuk menerapkan sistem tunda jual saat harga bawang turun di musim panen. “Ketika panen kita keringkan, menunggu harga naik sekitar 1 sampai 1,5 bulan, ketika harga naik baru kita lepas, kendala kita karena tidak memiliki gudang,” tambah Kadiso. (cr2)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
panen raya melonjak Bantul hasil panen bawang merah