BANTUL - Gelombang tinggi menyebabkan para nelayan di Pantai Depok memilih tidak melaut dan menunggu cuaca kembali normal. Memaksakan diri melaut dinilai terlalu berisiko karena dapat menyebabkan kapal dan mesin rusak akibat terjangan gelombang, bahkan membahayakan keselamatan jiwa.
Nelayan Pantai Depok Plenyun, 38, mengatakan, kondisi laut tidak hanya ditandai dengan ombak besar, tetapi juga jarak pandang yang terbatas akibat kabut serta angin kencang. Kondisi tersebut menyulitkan nelayan untuk menangkap ikan.
"Sudah 10 hari nggak melaut, jadi tiap hari di sini (bibir pantai, Red) nunggu gelombangnya normal, karena nggak ada mata pencaharian lain," katanya saat ditemui di Pantai Depok Jumat (14/8).
Padahal, jika dapat melaut, hasil tangkapan biasanya mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, selama tidak melaut, dia mengaku tidak memiliki pemasukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Baca Juga: Hadiri PKKMB UPN Veteran Jakarta, Menaker Yassierli Ajak Mahasiswa Bangun Pola Pikir Kewirausahaan
"Walaupun nggak ada pemasukan, kita cari aman, karena cuaca lagi ekstrem," tuturnya.
Dia memperkirakan gelombang akan kembali normal pada Senin hingga Rabu pekan depan. Namun, setelah itu, gelombang diprediksi kembali tinggi selama sepekan sehingga dirinya kemungkinan tidak dapat melaut kembali.
"Saat ini kalau bisa melaut, saya nyari benih bening lobster (BBL), sudah hampir dua tahun ini (nangkap BBL, Red)," bebernya.
Sementara itu, nelayan Pantai Depok lainnya Titor, 48, mengatakan, telah lebih dari 10 tahun berprofesi sebagai nelayan. Selama ini, dia hanya mengandalkan penghasilan dari menangkap ikan di laut.
Dia menyayangkan kondisi gelombang tinggi yang terjadi saat ini. Sebab, ikan di laut sedang banyak sehingga seharusnya nelayan dapat memperoleh hasil tangkapan lebih banyak jika cuaca mendukung. Kondisi tersebut berbeda dengan Agustus 2025, ketika cuaca pada periode yang sama lebih baik, tetapi hasil tangkapan ikan justru sedikit.
"Kalau cuacanya bagus, paling ada 30 dari 40-an perahu yang melaut," kata dia.
Jika dia melaut, satu kapal bisa memperoleh hasil tangkapan hingga satu kuintal. Namun, ketika hasil tangkapan sedikit, pendapatannya hanya cukup untuk menutup biaya pembelian bensin.
"Jadi kalau sekarang, karena gelombang tinggi saya manfaat libur ini buat memperbaiki alat-alat," katanya.
Baca Juga: Cuaca Buruk, Penerbangan Dialihkan, Kualifikasi Europa League Lech Poznan vs KI Klaksvik Ditunda
Berdasarkan pantauan Radar Jogja, sejumlah nelayan terlihat menunggu di bibir pantai sembari memantau kondisi cuaca sebelum kembali melaut. Sebagian lainnya memang memanfaatkan waktu tersebut untuk memperbaiki kapal dan peralatan agar siap digunakan ketika kondisi laut kembali normal. (cin)
Editor : Bahana.